Menu
Pencarian

Mengenal Sistem EWS: Bagaimana Teknologi Peringatan Dini Melindungi Pesisir Lampung dari Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Portaljtv.com - Rabu, 19 Agustus 2026 14:35
Mengenal Sistem EWS: Bagaimana Teknologi Peringatan Dini Melindungi Pesisir Lampung dari Erupsi Gunung Anak Krakatau?
Alur cara sistem early warning system (AWS) bekerja (Foto : BMKG)

BANDAR LAMPUNG - Eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi baru-baru ini menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh pihak. Guna menekan risiko jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mengoptimalkan pengoperasian enam unit alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini di kawasan pesisir Kabupaten Lampung Selatan. Pengoperasian teknologi ini dibarengi dengan edukasi kebencanaan bagi masyarakat setempat agar dapat merespons tanda bahaya secara cepat dan tepat.

Sistem peringatan dini bukanlah sekadar sekumpulan alat elektronik biasa, melainkan sebuah jaringan penyelamat yang mengintegrasikan pemantauan risiko, analisis ancaman, penyebaran informasi, hingga kesiapan tindakan warga. Di wilayah Lampung Selatan, edukasi mengenai mekanisme kerja sistem ini menjadi sangat vital bagi masyarakat pesisir yang berada di garis depan kawasan rawan bencana.

Berikut adalah empat fakta edukatif mengenai sistem EWS yang dipasang untuk mengantisipasi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau:

1.     Mendeteksi Ancaman Bencana secara Otomatis

Enam unit alat EWS yang terpasang di pesisir Lampung Selatan dirancang untuk mendeteksi tanda-tanda alam secara langsung. Alat ini akan mengeluarkan bunyi sirine peringatan secara otomatis apabila terjadi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu getaran gempa besar atau kenaikan tinggi gelombang air laut. Sinyal otomatis ini memberikan waktu krusial bagi warga untuk segera melakukan evakuasi dengan aman sebelum bencana melanda.

2.     Memiliki Sistem Kendali Manual Cadangan

Untuk mengantisipasi adanya kendala teknis pada sistem deteksi otomatis, pemerintah telah menyiapkan langkah cadangan. Tim Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) yang berada di pos pantau dapat membunyikan sirine EWS secara manual dari jarak jauh. Dengan demikian, peringatan darurat dipastikan akan tetap tersampaikan kepada masyarakat meskipun terdapat gangguan teknis pada sensor lapangan.

3.     Ditempatkan Khusus di Desa Tangguh Bencana (Destana)

Keberadaan teknologi canggih tidak akan berfungsi optimal tanpa adanya kesiapan dari masyarakat penerima informasi. Oleh karena itu, pemerintah menempatkan unit-unit EWS ini di wilayah yang telah berpredikat sebagai Desa Tangguh Bencana. Di desa-desa tersebut, warga telah mendapatkan pelatihan rutin serta pembinaan dari organisasi nonpemerintah (NGO) maupun Bank Dunia. Warga yang terlatih ini dapat langsung mengorganisasi tindakan penyelamatan diri begitu mendengar bunyi sirine.

Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal, menjelaskan pentingnya integrasi antara alat dan kesiapan warga tersebut. "Jadi di desa itu masyarakat sudah terbiasa, dan terlatih ketika ada kejadian, dan mereka bisa dengan cepat melakukan mitigasi di wilayahnya," terang Rudy.

4.     Melindungi Wilayah Paling Rawan di Lampung Selatan

Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh BPBD dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), titik-titik pemasangan EWS difokuskan pada kawasan pesisir yang diproyeksikan akan menerima dampak pertama kali saat erupsi terjadi. Saat eskalasi vulkanik meningkat seperti catatan PVMBG yang menunjukkan Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi dalam sehari, keberadaan alat ini menjadi tameng pertama bagi keselamatan warga pesisir.

Secara historis, keberadaan sistem peringatan dini yang andal terbukti mampu meminimalkan dampak buruk dari bencana alam berskala besar. Sebagai contoh, pascabencana tsunami Aceh tahun 2004, pemerintah Indonesia membangun sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS). Sistem peringatan dini yang lebih cepat dan tepat ini terbukti membantu meminimalkan jumlah korban jiwa ketika tsunami menerjang wilayah Selat Sunda pada tahun 2018 silam.

Hingga berita ini dibuat, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Selain memaksimalkan fungsi EWS, pemerintah daerah setempat juga aktif membagikan 3.000 masker medis untuk mengantisipasi paparan debu vulkanik yang mulai terbawa angin ke beberapa kecamatan seperti Bakauheni, Penengahan, Rajabasa, Kalianda, dan Pulau Sebesi. Warga diimbau untuk selalu waspada, mematuhi rekomendasi aman dari petugas, serta tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif gunung. (Cahya Hafid Abdillah)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.