TULUNGAGUNG - Sebuah balon udara liar yang dilengkapi petasan jatuh dan meledak di atas rumah warga di Desa Tanggulwelahan, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jumat pagi (3/4). Insiden ini merusak bagian atap rumah, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Peristiwa itu pertama kali diketahui pemilik rumah, Sopingi, setelah mendengar suara benda jatuh di atas genteng rumahnya. Saat dicek, ia mendapati balon udara berukuran besar tersangkut di atap dalam kondisi api masih menyala.
Sopingi kemudian berupaya menurunkan balon tersebut menggunakan tangga. Namun nahas, saat proses evakuasi berlangsung, petasan yang terpasang tiba-tiba meledak.
“Tiba-tiba meledak, sampai tiga kali,” ujar Sopingi.
Baca Juga : Warga Berebut Tumpeng Raksasa, Tradisi Larung Sembonyo Meriahkan Pantai Popoh Tulungagung
Ledakan tersebut menyebabkan belasan genteng pecah dan serpihannya berhamburan. Beruntung, tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut.
Kerusakan yang ditimbulkan hanya terbatas pada bagian atap rumah. Meski begitu, kejadian ini sempat membuat warga sekitar panik.
Petugas kepolisian yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan awal dan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari lokasi, polisi mengamankan barang bukti berupa balon udara berukuran besar serta sisa petasan yang belum meledak.
Baca Juga : Ribuan Warga Turun ke Jalan, Desak Program MBG di Tulungagung Tetap Berjalan
Kapolsek Besuki, AKP Mokhamad Sansun, menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.
“Kami masih melakukan penyelidikan terkait asal balon udara tersebut,” ujarnya.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tidak menerbangkan balon udara liar, terutama yang dilengkapi petasan, karena berpotensi membahayakan keselamatan.
Baca Juga : Bonus Menanti, Pemkab Tulungagung Lepas Talenta Muda ke Festival Piala Presiden Jatim 2026
Fenomena balon udara berpetasan memang kerap muncul di sejumlah wilayah Tulungagung dan sekitarnya, terutama pada momen tertentu. Namun, praktik tersebut jelas melanggar aturan dan berisiko tinggi memicu kebakaran maupun ledakan. (Agus Bondan/Beny Setiawan)
Editor : JTV Kediri


















