Menu
Pencarian

25 Desa di Trenggalek Terdampak Kekeringan, Warga Andalkan Dropping Air Bersih

JTV Kediri - Selasa, 18 Agustus 2026 16:37
25 Desa di Trenggalek Terdampak Kekeringan, Warga Andalkan Dropping Air Bersih
BPBD Trenggalek dibantu warga melakukan droping air bersih di 25 Desa. (Foto : Moch. Herlambang)

TRENGGALEK - Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat sebanyak 25 desa di 10 kecamatan terdampak. Warga pun kini mengandalkan bantuan dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hingga Selasa (18/8), wilayah terdampak tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari; sembilan desa di Kecamatan Panggul; Desa Prambon dan Duren di Kecamatan Tugu; serta Desa Timahan dan Bogoran di Kecamatan Kampak.

Kekeringan juga terjadi di Desa Wonocoyo dan Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan; Desa Slawe dan Watulimo, Kecamatan Watulimo; serta Desa Pandean, Pringapus, dan Cakul di Kecamatan Dongko.

Sementara di Kecamatan Trenggalek, kekeringan melanda Desa Karangsoko. Kondisi serupa terjadi di Desa Srabah dan Depok, Kecamatan Bendungan, serta Desa Sidomulyo, Kecamatan Pule.

Baca Juga :   Progres Bangunan Capai 92 Persen, Sekolah Rakyat Trenggalek Gelar Open House

Untuk memenuhi kebutuhan warga, distribusi air bersih dilakukan setiap hari dengan menyesuaikan kondisi wilayah, kebutuhan masyarakat, dan ketersediaan armada.

Pada Selasa, sebanyak 34 ribu liter air bersih didistribusikan ke dua kecamatan dan empat desa terdampak. Salah satunya di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, khususnya warga RT 5 dan RT 7 Dusun Sukorejo serta Dusun Karanggayam.

Bantuan tersebut merupakan dukungan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang disalurkan melalui BPBD Kabupaten Trenggalek.

Baca Juga :   Pemkab Trenggalek Usul Relaksasi Pajak, Pajak Restoran Berlaku Mulai Transaksi Rp 6 Juta

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan distribusi air dilakukan secara berkala, baik untuk wilayah pegunungan maupun dataran.

“Distribusi kami lakukan secara berkala sesuai kebutuhan dan kemampuan armada,” ujar Stefanus.

Dalam penyaluran air bersih, BPBD Trenggalek mendapat dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai Brantas, PDAM, serta armada milik BPBD sendiri. Lokasi penyaluran disesuaikan dengan kemampuan armada untuk menjangkau wilayah terdampak.

Baca Juga :   Edy Soepriyanto Pensiun per 1 Juli, Pemkab Trenggalek Siapkan Pj Sekda

Bagi warga, bantuan air bersih menjadi sangat penting karena sejumlah sumber air mulai mengering. Sringatin, salah seorang warga terdampak di Desa Karangsoko, mengatakan kondisi sumber air di lingkungannya mulai menurun sejak sebelum Agustus.

“Kondisinya hampir setiap tahun seperti ini kalau musim kemarau,” kata Sringatin.

Air hasil dropping digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, jumlah yang diterima belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga selama sehari penuh.

Baca Juga :   Geopark Trenggalek Dikebut, Bidik Status Nasional hingga UNESCO

Sringatin menyebut empat galon air yang diterimanya hanya mampu bertahan sekitar setengah hari karena digunakan oleh tiga orang. Setelah persediaan habis, warga harus menunggu distribusi berikutnya.

Sementara sumur di rumahnya masih menyisakan sedikit air. Namun, karena debitnya sangat terbatas, air tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan memasak dan minum.

Menurut Sringatin, pembuatan sumur bor sebenarnya bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun, biaya yang dibutuhkan cukup besar, diperkirakan mencapai Rp13 juta.

Baca Juga :   Gerak Cepat! 8 OPD di Trenggalek Langsung Diisi PLT Usai Mutasi JPT

Dengan kondisi tersebut, dropping air bersih masih menjadi tumpuan warga terdampak kekeringan sembari menunggu sumber air kembali normal. (Moch. Herlambang)

Editor : JTV Kediri






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.