Foto liburan dengan langit mendung kini bisa disulap jadi biru cerah hanya dengan satu ketukan. Turis yang tak sengaja masuk bidikan? Hilang dalam sekejap. Bahkan posisi orang dalam foto pun bisa digeser seolah mereka memang berdiri di sana sejak awal. Inilah wajah baru fotografi ponsel di 2026 dan pertanyaannya kini bukan lagi "seberapa bagus kameranya", melainkan "seberapa nyata foto yang dihasilkannya".
Persaingan ini kini bukan lagi soal megapiksel atau ukuran sensor semata. Google lewat Magic Editor di Google Photos memungkinkan pengguna melingkari subjek foto untuk memindahkan posisinya, sementara AI mengisi latar belakang yang ditinggalkan menggunakan model difusi generatif teknologi serupa yang dipakai untuk menghasilkan gambar dari teks. Fitur Magic Eraser bahkan bisa menghapus objek pengganggu seperti tiang listrik atau turis lain hanya dengan satu ketukan. Samsung tidak mau kalah lewat fitur Generative Edit, yang memungkinkan pengguna memindah, mengubah ukuran, atau memutar objek dalam bingkai foto, lengkap dengan latar belakang buatan AI yang disesuaikan secara otomatis. Sementara itu, OnePlus mengembangkan fitur penghapus pantulan cermin, dan berbagai vendor lain berlomba menghadirkan pergantian langit secara instan.
Kemudahan ini tentu memanjakan pengguna, namun para pengamat fotografi mulai mengingatkan risiko yang mengintai: garis pemisah antara kebenaran dan rekayasa visual menjadi semakin sulit dikenali sesuatu yang bukan hanya penting bagi jurnalis, tetapi bagi siapa pun yang ingin percaya pada apa yang mereka lihat di dunia maya. Risiko ini bukan sekadar wacana kosong. Salah satu kasus paling mencolok terjadi pada fitur "smart AI retouching" milik flagship Huawei Pura 70 Ultra, yang dilaporkan warganet secara tidak sengaja "menghilangkan" pakaian subjek foto saat mencoba menghapus objek lain, menyisakan ilusi kulit tanpa busana. Huawei mengakui kesalahan tersebut sebagai bug pada algoritma AI mereka dan berjanji memperbaikinya lewat pembaruan sistem namun insiden ini menjadi bukti nyata betapa berisikonya teknologi rekayasa gambar otomatis ketika tidak diawasi dengan baik.
Menjawab kekhawatiran publik, 2026 mulai disebut sebagai "tahun transparansi AI", di mana konsumen menuntut vendor besar seperti Samsung, Apple, dan Google secara terbuka mengungkapkan kapan dan bagaimana AI memanipulasi sebuah foto. Google merespons lewat Gemini dengan kemampuan mendeteksi foto hasil rekayasa AI menggunakan watermark tersembunyi SynthID serta metadata C2PA jejak digital yang tetap bisa dideteksi mesin meski tak kasatmata, dan tetap bertahan meski foto dikompresi, dipotong, atau warnanya diubah.
Sementara itu, sejumlah pengamat industri memprediksi masa depan aplikasi kamera akan terbagi menjadi dua mode berbeda: mode "Kreatif" yang bebas memakai rekayasa AI, dan mode "Terverifikasi" yang menjamin foto diambil apa adanya tanpa alterasi generatif penting khususnya bagi jurnalis foto yang meliput area sensitif seperti zona konflik.
Fitur AI generatif jelas memberi kemudahan luar biasa untuk fotografi sehari-hari, terutama bagi pengguna awam yang ingin hasil "sempurna" tanpa keahlian edit profesional. Namun di titik inilah literasi visual baru menjadi keharusan: masyarakat perlu memahami bahwa foto yang mereka lihat kini sering kali merupakan rekonstruksi realitas yang dikurasi algoritma, bukan lagi cerminan momen yang benar-benar terjadi apa adanya. Alih-alih menolak kemajuan ini, langkah paling realistis justru mendorong transparansi lebih besar dari vendor smartphone memastikan pengguna selalu tahu kapan sebuah foto murni hasil jepretan kamera, dan kapan ia sudah "disentuh" tangan AI generatif. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe

















