LAMONGAN - Banyak penggilingan padi di Kabupaten Lamongan tutup dalam hampir satu bulan terakhir. Kondisi ini dipicu melonjaknya harga gabah hingga mencapai Rp8 ribu per kilogram akibat persaingan pembelian dari tengkulak luar daerah.
Sejumlah wilayah yang terdampak di antaranya Kecamatan Sugio, Pucuk, Babat, Kembangbahu, dan Sukodadi. Biasanya memasuki bulan Mei, halaman penggilingan padi dipenuhi jemuran gabah hasil panen petani. Namun kini banyak lokasi terlihat sepi karena tidak ada aktivitas pengeringan gabah.
Para pemilik penggilingan menjerit. Mereka mengaku tidak mampu membeli gabah dengan harga tinggi. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah saat ini dipatok Rp6.500 per kilogram. Sementara para tengkulak dari luar daerah berani membeli gabah petani dengan harga Rp7.500 hingga Rp8 ribu per kilogram.
Akibatnya, pengusaha penggilingan padi lokal kalah bersaing modal dan memilih menghentikan operasional sementara karena tidak mendapatkan pasokan gabah.
Salah satu pengusaha penggilingan gabah, Ali Zudianto mengatakan, kenaikan harga gabah membuat banyak pengusaha kesulitan bertahan.
“Banyak penggilingan padi tutup karena harga gabah terus naik. HPP hanya Rp6.500 per kilogram, sementara tengkulak luar daerah berbondong-bondong datang dan berani membeli hingga Rp8 ribu per kilogram. Kami tidak kuat dengan harga setinggi itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga tidak sebanding dengan harga jual beras di pasaran. Untuk beras medium dijual sekitar Rp13 ribu per kilogram, sedangkan beras premium mencapai Rp14.500 per kilogram.
Para pengusaha penggilingan berharap pemerintah dan Satgas Pangan melakukan pengawasan ketat terhadap tengkulak luar daerah yang membeli gabah di atas HPP. Mereka menilai praktik tersebut menjadi salah satu penyebab harga gabah di tingkat petani tidak terkendali dan membuat usaha penggilingan lokal terancam berhenti beroperasi. (*)
Editor : A. Ramadhan



















