Menu
Pencarian


Usia 11 Tahun, Pelukis Cilik Asal Gresik Gelar Pameran Tunggal Perdana di Surabaya

Portaljtv.com - Jumat, 4 September 2026 19:06
Usia 11 Tahun, Pelukis Cilik Asal Gresik Gelar Pameran Tunggal Perdana di Surabaya
Annisa Nismara bersama karya-karyanya yang akan dipamerkan. (Foto: Arik S. Wartono)

SURABAYA - Usianya baru 11 tahun, tetapi Annisa Nismara Halimah sudah berani membawa persoalan anak ke ruang galeri. Pelukis cilik asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ini menggelar pameran tunggal perdananya bertajuk “Catatan Visual” di Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda Surabaya.

Pameran berlangsung pada 5-10 September 2026 dan menampilkan 15 karya Annisa. Lukisan-lukisan tersebut merekam pengalaman, perasaan, lingkungan, hingga kegelisahan seorang anak dalam melihat dunia di sekitarnya.

Salah satu yang menonjol adalah karya “Catatan Bullying” (2026). Dengan media akrilik di atas kanvas berukuran 50 x 50 sentimeter, siswi kelas 6 SD Al-Islam, Gresik ini menggunakan warna merah pekat sebagai latar. Di tengahnya terdapat sosok hitam yang membungkuk sambil memeluk diri sendiri.

Karya lain, “Catatan Child Abuse” (2025), menghadirkan suasana yang lebih gelap. Sosok anak digambarkan mengecil di tengah bidang hitam, sementara sebuah kaki dengan sepatu terlihat menggantung di bagian atas kanvas.

Menurut Kurator sekaligus Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN, Arik S. Wartono, kekuatan karya Annisa justru terletak pada keberaniannya menampilkan pengalaman dan perasaan secara spontan.

“Annisa tidak melukis setelah ia memahami persoalan. Ia melukis justru agar ia bisa memahami. Kanvas adalah tempat ia berpikir dan mencatatnya. Karena itu setiap karya terasa masih basah. Masih hangat bahkan panas, seolah baru selesai lima menit yang lalu,” terangnya.

 Arik menilai, gaya ekspresif-naif yang digunakan Annisa bukan sekadar persoalan teknik. Sapuan kuas yang spontan, warna yang ditumpuk, torehan pisau palet dan lelehan cat menjadi bagian dari cara Annisa menyampaikan gagasannya.

Kemampuan Annisa dalam teknik ekspresif-naif painting sebenarnya telah terlihat sejak ia masih kecil. Pada 2021, ketika Annisa berusia enam tahun, Arik juga menyebut teknik tersebut sebagai salah satu kemampuan terbaiknya.

Selain “Catatan Bullying” dan “Catatan Child Abuse”, pameran ini menghadirkan karya “Jantung Hati” (2026).

Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 50 x 50 sentimeter tersebut menampilkan sosok dari belakang. Di bagian tengah tubuh terdapat jantung berwarna merah yang seolah keluar dari tubuh.Karya itu menjadi gambaran tentang perasaan yang tidak selalu mudah disampaikan anak melalui kata-kata.

Sementara “Catatan Harian #3” (2026) menjadi salah satu karya berukuran besar. Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 100 x 100 sentimeter tersebut merupakan bagian dari seri “Catatan Harian”.Warna biru gelap, abu-abu, putih dan merah bertemu melalui sapuan dan tetesan cat. Bagi Arik, karya tersebut menjadi semacam catatan tentang suasana batin Annisa.

“Kalau Catatan Bullying dan Catatan Child Abuse merekam kekerasan di luar, Jantung Hati berbicara tentang sesuatu yang dirasakan di dalam, maka Catatan Harian #3 menjadi ruang bagi Annisa untuk merekam proses dirinya dalam menghadapi dunia yang terlalu bising, terlalu cepat, terlalu banyak tuntutan,” terang Arik.

Menurut Arik, karya Annisa tidak harus selalu dibaca sebagai karya seorang anak yang sedang mencari bentuk. Sebaliknya, karya tersebut dapat dilihat sebagai cara seorang anak membangun bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang sulit diucapkan.

Pameran “Catatan Visual” tidak hanya berisi karya dengan tema berat. Annisa juga menghadirkan “Landscape Cerme, Gresik” (2025), sebuah lukisan berukuran 100 x 100 sentimeter yang dibuat secara langsung atau on the spot di area persawahan sekitar satu kilometer dari rumahnya. Sawah, pohon, langit dan pegunungan menjadi objek utama. Karya ini menunjukkan kedekatan Annisa dengan lingkungan tempat ia tumbuh.

Sejumlah karya lain turut melengkapi pameran, antara lain “Taukah Kalian” (2024), “Ngukruk” (2025), “Figur Pagi” (2026), “Lorong” (2026), “Bukit Biru” (2026), “Bunga Curcuma Hutan” (2026), “Waduk Sumengko” (2026) dan “Sapi Merah Kecil” (2024).

“Ngukruk”, misalnya, menggambarkan seekor burung hitam yang bertengger sendirian. Sementara “Figur Pagi” menghadirkan suasana yang lebih hangat dengan cahaya matahari. Karya-karya tersebut membuat “Catatan Visual” tidak hanya menjadi pameran tentang kegelisahan. Pameran ini juga menjadi catatan tentang rumah, alam, kesendirian, kebahagiaan dan keseharian Annisa.

Perjalanan Annisa di Dunia Seni

Annisa mulai belajar melukis di Sanggar DAUN sejak berusia sekitar empat tahun. Kiprahnya kemudian berkembang melalui berbagai kompetisi dan pameran. Pada 2021, ketika masih berusia enam tahun, Annisa telah mengikuti pameran bersama Isabell Nufail Roses di Gresik. Saat itu, Arik menyebut Annisa dan Isabell sebagai dua seniman asal Gresik yang telah meraih penghargaan nasional dan internasional.

Annisa juga beberapa kali tampil dalam pameran bersama seniman anak dan remaja Sanggar DAUN, termasuk dalam ajang Jogjak Arts di Yogyakarta pada 2024. Pada 2026, Annisa kembali tampil dalam pameran seni rupa Sanggar DAUN di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur.

Kini, untuk pertama kalinya, karya-karya Annisa mendapat ruang dalam pameran tunggal. Dan lewat 15 karya yang dipamerkan, pengunjung diajak untuk melihat dunia melalui mata seorang anak berusia 11 tahun. (*)

Editor : A. Ramadhan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.