SURABAYA - Pendidikan di Indonesia sering kali masih terjebak pada kebiasaan lama: guru berceramah di depan kelas, murid mendengarkan, lalu disuruh menghafal untuk persiapan ujian. Akibatnya, banyak anak sekolah yang pintar menjawab soal hafalan dari buku, tapi kebingungan saat dihadapkan pada masalah dunia nyata. Untuk memberantas penyakit malas berpikir ini, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan pelatihan besar-besaran bagi para guru Sekolah Laboratorium (Labschool) Unesa pada tanggal 28 hingga 29 Agustus 2026.
Program yang diberi nama "GASPOL Membaca dan Numerasi" ini digelar untuk merombak total cara guru mengajar. Tujuannya sederhana: membuat anak sekolah lebih kritis, pintar mencerna informasi agar tidak mudah termakan hoaks, dan bisa menggunakan logika matematika untuk kehidupan sehari-hari saat mereka lulus nanti. Berita ini sangat penting, tidak hanya bagi kalangan guru dan dosen, tapi juga bagi para orang tua, pedagang, hingga masyarakat luas yang ingin tahu bagaimana nasib kualitas pendidikan anak-anak kita ke depannya.
Kondisi Darurat: Anak Kita Bisa Membaca, Tapi Tidak Paham Maknanya
Langkah turun gunung yang dilakukan Unesa ini bukan tanpa alasan. Kondisi pendidikan kita saat ini memang sedang membutuhkan pertolongan pertama. Hal ini terlihat jelas dari hasil tes internasional bernama PISA (Penilaian Pelajar Internasional) yang rutin mengukur kecerdasan anak usia 15 tahun di berbagai negara.
Fakta di lapangan menunjukkan angka yang memprihatinkan. Pada tahun 2009, nilai kemampuan membaca anak Indonesia sempat mencapai angka 402. Namun, bukannya naik, pada tahun 2022 nilainya malah turun drastis menjadi 359. Mayoritas murid kita baru sampai di level dasar. Artinya, mereka sekadar bisa membaca deretan kalimat dan menemukan informasi yang tertulis jelas, tapi belum punya kemampuan untuk menganalisis apakah informasi itu benar, salah, atau sekadar opini belaka.
Di tengah kabar buruk itu, ada sedikit harapan dari ujian nasional model baru buatan pemerintah, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Data menunjukkan pada tahun 2021, banyak siswa yang nilainya masih di bawah standar. Tapi pada 2024, angka siswa yang lulus standar mulai merangkak naik menjadi 79%. Sayangnya, kualitas sekolah di berbagai daerah masih sangat timpang. Kesenjangan inilah yang membuat Unesa merasa harus membina langsung guru-guru Labschool agar mereka bisa menjadi contoh nyata bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya.
Mendobrak Ego Guru: Semua Guru Adalah Guru Membaca
Pada hari pertama pelatihan, Unesa menerjunkan langsung dosen-dosen pakar dari berbagai bidang ilmu, mulai dari ahli Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, hingga Matematika. Pesan utama yang mereka sampaikan di hadapan puluhan guru Labschool sangat tegas: kemampuan membaca dan mencerna informasi bukan cuma urusan guru bahasa.
Atmosfer perubahan itu sangat terasa di aula utama. Puluhan guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA, berkumpul dengan semangat yang menyala. Mereka berdiri tegap di depan layar proyektor raksasa bertuliskan "Pelatihan GASPOL Membaca dan Numerasi". Senyum optimis terpancar dari wajah-wajah pendidik ini, kekompakan mereka terlihat jelas saat sebagian besar dari mereka mengepalkan tangan ke udara atau melipat tangan di dada sebuah simbol diam namun tegas bahwa mereka siap "mengegas" kualitas literasi anak didiknya.
Prinsip "Semua guru adalah guru membaca" ditekankan berulang kali. Ini berarti guru olahraga, guru agama, maupun guru IPA wajib mengajari siswanya cara memahami bacaan. Misalnya, saat pelajaran olahraga, anak tidak cuma disuruh lari keliling lapangan, tapi juga diajak membaca dan membandingkan apa bedanya aturan main futsal dan sepak bola, lalu mendiskusikannya.
Program ini juga menyoroti kelelahan para guru yang selama ini sibuk mengurus tumpukan kertas administrasi sekadar untuk menyetorkan laporan kepada kepala sekolah. Dalam pelatihan ini, aturan mainnya diubah total. Kertas-kertas dokumen itu harus disulap menjadi skenario mengajar yang nyata, yang bisa bikin anak aktif bergerak dan berpikir di dalam kelas.
Metode 15 Menit GASPOL dan Senjata Visual
Inti dari program ini adalah mengenalkan metode GASPOL. Ini adalah langkah-langkah praktis agar anak tidak kaget saat disuruh berpikir berat. Jika metode ini rutin dilakukan selama 15 menit saja di awal pelajaran, kebiasaan otak anak akan berubah perlahan-lahan.
- G (Gali pengetahuan awal): Guru menayangkan gambar atau judul berita yang menarik, bukan langsung menyuruh anak membaca teks yang panjang.
- A (Ajukan pertanyaan): Anak didorong untuk memunculkan rasa ingin tahunya dengan membuat pertanyaan sendiri.
- S (Sangka / Duga): Anak disuruh menebak jawabannya berdasarkan logika dasar mereka (boleh salah).
- P (Pembuktian): Anak mulai membaca teks untuk mencari bukti, apakah tebakan mereka di awal tadi benar atau salah.
- O (Olah makna): Anak merangkum informasi yang telah terbukti benar menjadi sebuah kesimpulan.
- L (Lakukan refleksi): Guru mengajak anak memikirkan apa guna pelajaran hari ini untuk hidup mereka di lingkungan rumah.
Memasuki sesi pendalaman materi di siang hari, dinamika beralih ke kelompok-kelompok kecil yang lebih intim agar guru bisa langsung mempraktikkan teori tersebut. Di salah satu sudut ruangan, kelas berjalan dengan sangat interaktif. Seorang dosen pemateri berdiri di depan sebuah layar televisi berukuran besar, membedah materi krusial bertajuk "Narasikan Pengetahuan". Tidak ada lagi guru yang mengantuk di kursi belakang; belasan guru yang duduk melingkar di meja panjang tampak menatap layar dengan saksama. Tangan mereka lincah mengetik di atas kibor laptop masing-masing, berusaha menerjemahkan gagasan-gagasan baru itu ke dalam lembar kerja yang siap dipakai di sekolah.
Pemandangan serupa juga terjadi di ruang diskusi lainnya. Ketegangan merancang kurikulum berhasil dicairkan menjadi kolaborasi yang menyenangkan. Sekelompok guru bahasa, dengan mengenakan seragam putih bertuliskan logo acara, tampak sangat bangga dengan hasil kerja keras mereka. Di depan layar presentasi yang memampang desain penuh warna bertuliskan "GASPOL Teks Eksposisi - Rencana Pembelajaran Mendalam", mereka berdiri berjajar. Sambil tersenyum riang, jari telunjuk mereka diacungkan ke atas, menandakan semangat untuk melahirkan murid-murid juara dalam urusan berpikir kritis.
Matematika Bukan Sekadar Rumus Bikin Pusing
Pelatihan ini juga memberantas masalah akut di pelajaran Matematika. Selama ini anak-anak diajari bahwa matematika itu menakutkan dan rumus-rumusnya tidak terpakai saat mereka lulus.
Ahli Matematika dari Unesa meluruskan hal ini. Kecerdasan angka (Numerasi) bukan berarti anak harus bisa menghitung perkalian super cepat. Numerasi adalah cara manusia menggunakan logika angka agar bisa mengambil keputusan yang tepat di dunia nyata.
Sebagai contoh, di kelas numerasi yang baru, anak tidak lagi disuruh menghitung soal kering seperti "X + Y". Mereka justru diberi kasus nyata: "Kalau Toko A memberi diskon baju 50%, sedangkan Toko B memberi diskon 30% ditambah 20%, toko mana yang sebenarnya lebih murah jika kita bawa uang Rp100.000?"
Dengan cara ini, anak sadar bahwa matematika sangat berguna untuk kehidupan mereka, salah satunya agar dompet mereka aman dari jebakan trik promosi saat belanja di pasar atau mal.
Ujian Praktik Langsung: Guru Menjadi Murid
Teori sebagus apa pun tidak ada gunanya kalau tidak dipraktikkan. Oleh karena itu, pada hari kedua, seluruh ruang pelatihan disulap menjadi arena simulasi mengajar yang menegangkan sekaligus seru. Para guru diminta maju ke depan untuk praktik mengajar langsung, sementara teman-teman gurunya duduk menjadi "murid nakal" yang banyak bertanya.
Di depan kelas, tampak seorang guru perempuan berhijab tampil mengambil alih kendali. Dengan cekatan, ia mengoperasikan layar interaktif yang memproyeksikan sebuah gambar cerah ilustrasi dua anak sekolah berlatar gedung kelas. Tangannya menunjuk langsung ke arah gambar tersebut, memancing respons dan daya kritis dari "murid-muridnya". Uniknya, murid-murid yang duduk berjejer di kursi besi lipat itu adalah rekan-rekan sesama guru yang ditugaskan untuk menguji kesabaran sang pengajar. Di sudut ruangan, seorang fasilitator duduk tenang mengamati jalannya kelas, jarinya sibuk mengetik catatan evaluasi di laptop untuk dibedah bersama-sama setelah simulasi usai.
Setelah praktik selesai, terjadilah diskusi secara blak-blakan. Kalau ada guru yang pertanyaannya masih bergaya hafalan jadul seperti sekadar menyuruh anak menyebutkan nama tokoh di dalam teks rekan guru dan dosen akan langsung memprotes. Mereka dituntut mengubah pertanyaannya menjadi jauh lebih tajam dan berbasis bukti, misalnya: "Dari bacaan tadi, kalimat mana yang membuktikan kalau tokoh ini punya niat jahat?" Kebiasaan saling mengoreksi secara terbuka inilah yang akan membuat insting mengajar guru semakin tajam.
Langkah Tegas Selanjutnya: Peta Jalan 8 Minggu
Unesa memastikan pelatihan ini tidak sekadar kumpul-kumpul yang dilupakan esok harinya. Di akhir acara, sekolah diberikan target mutlak yang disebut "Peta Jalan 8 Minggu".
Begitu pulang dari pelatihan, guru wajib langsung menerapkan metode GASPOL di kelas. Bagi murid-murid yang masih sangat kesulitan membaca atau berhitung, sekolah dilarang keras memberikan hukuman. Anak-anak ini akan dimasukkan ke dalam program khusus bertajuk "Terapi Literasi". Di sana, mereka diajari secara perlahan-lahan dengan bahasa yang sangat sederhana dan banyak bantuan gambar, sampai mereka cukup percaya diri untuk menyusul teman-temannya yang lain. Puncaknya, dalam dua bulan ke depan, sekolah akan menggelar pameran karya siswa besar-besaran untuk merayakan kemajuan cara berpikir mereka.
Langkah membumi dari Unesa ini membuktikan bahwa untuk memperbaiki nasib bangsa, kita tidak perlu menunggu pergantian pejabat atau menunggu kurikulum baru dicetak ulang. Perubahan yang paling nyata justru bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana di dalam kelas: mengubah cara guru melontarkan pertanyaan, dan membiasakan anak-anak kita berpikir kritis sebelum menelan sebuah informasi.
Editor : Iwan Iwe



















