SURABAYA - Setelah lebih dari dua minggu berkutat di antara puing dan duka, seluruh korban musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, akhirnya berhasil diidentifikasi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur resmi menutup operasi identifikasi pada Rabu, 15 Oktober 2025 malam.
Sebanyak 63 jenazah korban yang dilaporkan hilang telah terverifikasi dan diserahkan kepada keluarga masing-masing. Penutupan operasi DVI menandai akhir dari fase panjang pascabencana yang mengguncang pesantren ternama tersebut.
Pada Senin, 29 September 2025 sekitar pukul 15.00 WIB, musala di kompleks asrama putra mendadak ambruk saat para santri melaksanakan salat Ashar berjemaah. Suara ledakan diikuti debu tebal dan teriakan minta tolong terdengar dari dalam bangunan yang runtuh total.
Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI-Polri, dan relawan segera bergerak. Evakuasi berlangsung hingga malam hari di bawah penerangan seadanya. Puluhan korban berhasil diselamatkan, namun sebagian lainnya tertimbun reruntuhan bangunan. Alat berat dikerahkan sejak hari kedua untuk mempercepat pencarian, sementara posko darurat didirikan di halaman pesantren untuk menerima laporan keluarga.
Baca Juga : Seluruh Korban Ponpes Al Khoziny Teridentifikasi, Operasi DVI Polda Jatim Resmi Ditutup

Selama sembilan hari operasi evakuasi, tim penyelamat menyisir reruntuhan dengan alat berat dan pencarian manual. Hingga operasi dihentikan pada Selasa, 7 Oktober 2025, total 171 korban berhasil dievakuasi. 104 orang selamat dan 67 meninggal dunia, termasuk delapan potongan tubuh yang ditemukan terpisah.
Dalam beberapa hari operasi pencarian, 67 kantong jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. Kondisi korban yang sebagian sulit dikenali membuat proses identifikasi memerlukan waktu dan ketelitian tinggi. Tim DVI bekerja tanpa lelah, mencocokkan data ante mortem dari keluarga dengan data post mortem melalui pemeriksaan gigi, sidik jari, hingga DNA.
Baca Juga : Diduga Hendak Mencuri, Pria di Lumajang Babak Belur Diamuk Warga dan Motornya Dibakar
Kabid Dokkes Polda Jatim Kombes Pol M. Khusnan Marzuki menjelaskan, identifikasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

“Kami pastikan setiap jenazah teridentifikasi secara ilmiah. Tidak boleh ada kesalahan dalam pencocokan data,” ujarnya saat konferensi pers penutupan operasi.
Hingga hari kesepuluh, 58 jenazah telah teridentifikasi, dan lima lainnya menyusul setelah uji DNA rampung. Dengan demikian, total 63 korban teridentifikasi, dan operasi DVI dinyatakan resmi ditutup. Penyerahan jenazah terakhir berlangsung penuh haru di halaman rumah sakit.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi dunia pesantren. Aparat Kepolisian tengah menelusuri penyebab pasti ambruknya bangunan. Dugaan sementara mengarah pada kesalahan konstruksi.
Dari reruntuhan yang menelan puluhan nyawa itu, kini kepastian telah didapat keluarga korban meski pahit. Mereka yang sempat menunggu di posko, kini dapat memeluk kembali sanak saudaranya untuk dimakamkan dengan layak.
Tragedi Al Khoziny menjadi pengingat bahwa keselamatan bangunan tempat pendidikan harus menjadi prioritas, agar mimpi meraih masa depan tidak pupus di antara puing-puing. (*)
Editor : A. Ramadhan



















