SURABAYA - Jawa Timur terus mengukuhkan perannya sebagai salah satu motor ekonomi syariah nasional melalui penguatan dana Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf). Isu ini mengemuka dalam program “Jatim Joss Obrolan Spesial Seputar Jawa Timur” yang tayang di JTV pada Senin (16/2/2026). Diskusi tersebut membahas bagaimana dana umat dapat ditransformasikan dari sekadar bantuan konsumtif menjadi instrumen pemberdayaan produktif.
Berdasarkan data terbaru, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur mencatat realisasi penghimpunan zakat tahun 2025 mencapai Rp47 miliar, melampaui target Rp45 miliar. Untuk tahun 2026, penghimpunan ditargetkan naik menjadi Rp52 miliar. Potensi wakaf uang di Jawa Timur bahkan diproyeksikan mencapai Rp36 triliun atau sekitar 20 persen dari total potensi nasional.
Ketua Baznas Jatim, Ali Maschan Moesa, menyebut tantangan terbesar bukan hanya mengumpulkan dana, tetapi mengubah pola distribusi agar berdampak jangka panjang.
“Tugas terakhir kita adalah bagaimana mengubah perilaku dari mustahik menjadi muzaki. Itu yang terus kami dorong lewat program-program pemberdayaan,” ujar Ali. Menurutnya, Baznas Jatim mengembangkan sejumlah program seperti Z-Chicken, Z-Auto, hingga Z-Mart yang menyasar pelaku usaha kecil. Program tersebut tidak hanya memberikan modal, tetapi juga pendampingan usaha agar penerima manfaat bisa mandiri secara ekonomi.
Baca Juga : Kembali Jadi Tuan Rumah FESyar 2025, Gubernur Khofifah: Jatim Pusat Ekonomi Syariah Nasional
Selain itu, Baznas juga memprioritaskan intervensi terhadap pedagang kecil yang terjerat praktik rentenir. Pendekatan ini telah diuji coba di beberapa daerah seperti Banyuwangi, Ngawi, dan Tulungagung.
YDSF Dorong Ekonomi Berbasis Komunitas
Sementara itu, Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) menekankan pentingnya penguatan ekonomi berbasis komunitas dan pendidikan. Ketua Pengurus YDSF, Shakib Abdullah, menjelaskan bahwa lembaganya kini mengalokasikan sekitar 30 persen dana yang dihimpun untuk program pemberdayaan produktif.
Baca Juga : Dorong Pengembangan Ekonomi Syariah, ITS Luncurkan Platform Digital HalalWave
“Kalau kita bisa menggerakkan mereka lewat dana zakat, infak, dan wakaf produktif, maka pelan-pelan derajatnya bisa naik. Dari yang tadinya menerima, menjadi yang berkontribusi,” jelasnya.
Program yang dijalankan antara lain pengembangan kopi di Bondowoso untuk mendukung beasiswa mahasiswa, budidaya pisang, pertanian komunitas, peternakan telur, hingga pelatihan pengelasan bagi lulusan SMA/SMK kurang mampu. YDSF juga menaruh perhatian besar pada sektor pendidikan melalui peningkatan kualitas guru dan akses beasiswa.
Peran Kemenag: Literasi dan Legalitas Wakaf
Dari sisi regulasi dan literasi, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menargetkan pembentukan 800 hingga 1.000 titik pemberdayaan Ziswaf hingga 2026.
Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Jatim, H. Arwani, menegaskan bahwa penguatan peran KUA menjadi salah satu strategi utama. “KUA tidak hanya melayani urusan nikah. Kami berdayakan sebagai pusat literasi zakat dan wakaf, sekaligus pendampingan percepatan sertifikasi tanah wakaf,” terangnya.
Digitalisasi data wakaf dan kerja sama dengan ATR/BPN juga dilakukan untuk memastikan kepastian hukum aset wakaf agar bisa dikelola secara produktif.
Kolaborasi Jadi Kunci
Dalam diskusi tersebut, para narasumber sepakat bahwa kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor penentu keberhasilan pemberdayaan ekonomi umat. Sinkronisasi data mustahik, sinergi program, serta transparansi pengelolaan dana menjadi prasyarat agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan.
Ali menegaskan bahwa pengelolaan yang profesional harus diiringi dengan sinergi yang kuat. “Kalau kita bersinergi, dampaknya akan lebih luas. Jangan jalan sendiri-sendiri. Kolaborasi itu kunci,” tegasnya.
Menjelang Ramadan, momentum ini diharapkan semakin memperkuat kesadaran masyarakat bahwa zakat, infak, sedekah, dan wakaf bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga strategi membangun kemandirian ekonomi dan keadilan sosial. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















