MALANG - Warga Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, menggelar tradisi turun-temurun berupa arak-arakan jolen sebagai wujud syukur atas segala berkah yang diterima. Tradisi ini rutin digelar setiap Senin Legi yang jatuh pada bulan Assyura, dan tahun ini kembali dilaksanakan pada Senin pagi.
Sedikitnya tujuh jolen turut diarak dalam kegiatan tersebut, masing-masing mewakili tujuh RW yang ada di Desa Genengan. Iring-iringan jolen mengelilingi dusun-dusun sebelum akhirnya menuju Kantor Desa Genengan dengan melintasi pinggir jalan provinsi.
Arak-arakan yang melintasi jalan utama tersebut sempat menimbulkan kemacetan. Namun, para pengguna jalan memakluminya lantaran memahami bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari adat setempat sebagai wujud syukur warga desa kepada Tuhan.
Setibanya di kantor desa, seluruh jolen dikumpulkan beserta makanan yang dibawa oleh peserta arak-arakan. Sebelum disantap bersama atau dibawa pulang, warga terlebih dahulu memanjatkan doa sebagai penutup rangkaian acara.
Baca Juga : Filosofi Jenang Grendul: Simbol Roda Kehidupan dalam Semangkuk Kelezatan Tradisional
Kepala Dusun (Kasun) Genengan Krajan, Mat Soleh, menjelaskan bahwa tradisi arak-arakan jolen ini digelar setiap Senin Legi pada bulan Assyura dengan diikuti tujuh RW dan tujuh jolen yang diarak keliling desa.
Selain menunjukkan antusiasme warga yang tinggi, acara ini juga bertujuan mengucap rasa syukur atas segala pemberian kepada Desa Genengan, sekaligus menjadi sarana mempererat kerukunan antarwarga.
"Kegiatan ini sudah berjalan sejak dahulu kala. Kebetulan di desa kami ada 7 RW dan 21 RT. Peserta sekitar 1.000 orang dan semuanya antusias. Tujuannya sendiri hanya sebatas mengucapkan rasa syukur, untuk menjalin hubungan yang baik antarwarga, dan melestarikan budaya," ujar Mat Soleh.
Baca Juga : Timus, Kudapan Legendaris Berbahan Ubi Jalar yang Tetap Eksis dan Bergizi
Tradisi yang telah tercipta sejak zaman dahulu ini diharapkan dapat terus dipertahankan di tengah masuknya arus peradaban baru yang berpotensi menggerus tradisi lokal. Semangat gotong royong serta nilai kebersamaan yang terkandung dalam tradisi arak-arakan jolen menjadi warisan budaya yang patut dijaga oleh generasi mendatang. (*)
Editor : Iwan Iwe



















