SURABAYA - Komunitas seni The Wonder of Indonesia (TWOI) sukses menggelar Show ke-7 berskala nasional di Ciputra Hall Surabaya, Jum’at (12/12/2025) malam.
Pertunjukan drama bertajuk “BAYANGAN: The Forgotten Legends” ini menjadi saksi lahirnya sebuah karya seni yang sarat makna. Pementasan ini sekaligus menandai kelulusan peserta TWOI Musical Camp 2025.
Sebanyak 70 orang terlibat dalam produksi ini. Mereka terdiri dari 12 aktor yang berasal dari Surabaya, Bandung, Riau, Sumatra, hingga Kalimantan, 24 penari, serta 36 kru pendukung yang mencakup usher, tim backstage, tata cahaya, artistik, hingga produksi. Keberagaman latar belakang tersebut menegaskan bahwa TWOI telah berkembang menjadi ruang berkesenian berskala nasional.
Pementasan ini bukan sekadar hiburan panggung. Lebih dari itu, “BAYANGAN” menjadi perayaan atas proses intensif lima hari empat malam, di mana puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia di tempa dari nol hingga siap tampil di panggung profesional.
Drama musikal “BAYANGAN: The Forgotten Legends” mengangkat kisah legenda-legenda Indonesia yang mulai tergerus oleh zaman. Cerita di kemas melalui konsep dua dunia yakni terang dan gelap, yang saling berkelin dan dalam konflik batin serta pilihan hidup para karakter.
Melalui alur cerita yang emosional, penonton diajak memahami bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih. Dalam kegelapan selalu ada cahaya, sementara dalam kebaikan pun tersimpan ujian dan konsekuensi. Pesan ini menjadi benang merah yang ingin di sampaikan kepada generasi muda tentang empati, pilihan hidup, dan tanggung jawab.
Ide pementasan lahir dari Angeline Virginia Wong, Founder sekaligus Director TWOI, bersama Michael Achel selaku Director. Keduanya memiliki visi yang sama, yakni menggabungkan budaya Indonesia, seni pertunjukan, dan pendidikan karakter dalam satu karya yang relevan dengan generasi masa kini.
“Drama musikal bukan hanya soal tampil di atas panggung. Ini adalah media pembelajaran karakter, disiplin, empati, dan keberanian mengekspresikan diri,” ujar Angeline.
Konsep TWOI Musical Camp dirancang sebagai pembelajaran terintegrasi. Dalam waktu singkat, peserta mendapatkan pelatihan akting, tari, dan vokal, sekaligus di bentuk mental, kerja tim, dan disiplin panggung. Seluruh peserta mengikuti proses dari awal hingga pementasan, sehingga apa yang di tampilkan merupakan hasil nyata dari perjalanan pembelajaran tersebut.
Salah satu pemeran, Rachsanaa Selvaraj (12), yang memerankan Nyi Roro Kidul, mengaku mendapatkan pelajaran penting dari perannya.
“Pesan ceritanya buat anak-anak seusia aku, jangan menilai orang cuma dari luarnya. Semua orang punya sisi baik dan sisi buruk,” ujarnya.
Sementara itu, Niskala Aida Hendrian (11) asal Bandung, memerankan Sanggramawijaya Tunggadewi—putri Raja Airlangga yang memilih jalan hidup suci sebagai Dewi Kili Suci. Peran tersebut mengajarkannya tentang keteguhan hati dan keberanian dalam menentukan pilihan hidup.
Tak kalah antusias, Gabriel Berachah Kurniawan (8), siswa kelas 3 SD Kartika Tenggilis, yang memerankan Dewa Bumi, mengaku menikmati proses pementasan. “Capek sih, tapi senang. Kalau ada drama musikal lagi, mau ikut lagi,” katanya polos.
Melalui pementasan ini, TWOI berharap dapat terus menjadi ruang aman dan inspiratif bagi anak-anak dan remaja untuk berkarya. Lebih dari itu, TWOI ingin membuktikan bahwa cerita dan budaya Indonesia dapat di kemas secara modern, berkualitas, dan tetap relevan bagi generasi masa kini.
Di atas panggung Ciputra Hall malam itu, legenda-legenda lama kembali hidup, bukan sekadar sebagai kisah masa lalu, melainkan sebagai cermin nilai dan pesan bagi masa depan. Hingga kini, TWOI telah menggelar tujuh pertunjukan drama musikal dengan skala yang terus berkembang, dengan satu tujuan yang konsisten: membangun generasi muda yang kreatif, berkarakter, dan bangga terhadap budayanya sendiri. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















