Perum Bulog Cabang Madiun terus berupaya mengoptimalkan penyerapan jagung dari petani lokal di tengah tantangan dinamika harga pasar. Hingga Senin (31/08/2026), realisasi serapan komoditas jagung baru menyentuh angka 4.756 ton atau sekitar 47,06 persen dari total target tahunan yang ditetapkan sebanyak 10.105 ton.
Tingginya harga jagung di tingkat pabrik dan pasar bebas menjadi faktor utama yang memperlambat laju penyerapan pemerintah. Untuk mencapai target tersebut, Bulog Madiun menjalin kolaborasi strategi dengan Kepolisian Resor Madiun. Informasi dari petugas Bhabinkamtibmas di wilayah sentra pertanian menjadi pemeta vital lokasi panen agar tim Bulog dapat langsung bergerak menyerap hasil pertanian.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Madiun, Agung Sarianto, menegaskan komitmennya untuk terus mengintensifkan komunikasi dengan para petani demi menjaga stabilitas harga di lapangan.
“Bulog Cabang Madiun juga terus menjaga komunikasi dengan petani yang selama ini menyampaikan hasil panennya. Langkah ini dilakukan untuk memadukan perkembangan harga di lapangan, sekaligus memastikan petani tetap mendapatkan harga yang layak. Harga Pembelian Pemerintah diharapkan menjadi instrumen perlindungan,” ujar Agung Sarianto.
Saat ini, Bulog membeli jagung kadar air 18–20 persen seharga Rp5.500 per kilogram, sedangkan kadar air 14 persen (kering simpan) disesuaikan dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Di sisi lain, harga jual di tingkat pabrik pakan ternak melambung tinggi berkisar Rp6.950 hingga Rp7.200 per kilogram.
Secara ekonomis, kesenjangan antara HPP Bulog dan harga pasar disebabkan oleh tingginya permintaan (demand) dari industri pakan ternak nasional yang tidak sebanding dengan laju pasokan (supply) di beberapa wilayah. Kondisi ini memicu hukum pasar, di mana pedagang komersial berani membeli dengan harga lebih tinggi langsung di tingkat petani.
Fungsi utama HPP yang ditetapkan pemerintah sebenarnya berfungsi sebagai harga dasar atau jaring pengaman harga paling bawah. Artinya, HPP bertugas melindungi petani agar tidak rugi saat terjadi panen raya yang berpotensi memicu anjloknya harga.
Namun, ketika harga pasar berada jauh di atas HPP, petani secara rasional memilih menjual hasil panennya ke pasar bebas untuk meraih keuntungan maksimal. Langkah Bulog untuk tetap hadir dan menyatukan lapangan menjadi sangat krusial agar harga tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan petani maupun ketahanan pangan daerah.
Editor : Iwan Iwe



















