NGAWI - Musim kemarau sering kali menjadi ancaman nyata bagi ketersediaan air pertanian. Namun, bagi para petani di kawasan waduk sekitar Kabupaten Ngawi, penurunan debit air justru membuka peluang baru. Keberadaan lahan pertanian pasang surut di daerah surutnya waduk menjadi penopang penting yang turut berkontribusi terhadap penambahan luas lahan tanam, khususnya untuk komoditas padi nasional.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi mencatat, saat ini terdapat sekitar 45 hektar lahan pasang surut yang aktif dimanfaatkan masyarakat. Kehadiran lahan situasional ini menjadi angin segar di tengah pelaksanaan Musim Tanam Kedua (MT II) di Ngawi yang secara keseluruhan telah mencapai luas 49.577 hektar.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Ngawi, M. Hasan Zunairi, menegaskan bahwa potensi lahan ini tetap masuk dalam pendataan resmi pemerintah daerah karena secara nyata menghasilkan komoditas pangan.
“Petani bantuan di lahan pasang surut juga bisa mendapat benih. Melalui Gapoktan, bisa dilakukan pendataan untuk ikut masuk dalam usulan bantuan, meski jika melihat hasil atau produktivitas tanaman hanya sekitar 4 hingga 4,5 ton per hektar,” ujar M. Hasan Zunairi.
Secara geografis, pemanfaatan lahan ini tersebar di lima desa yang berada di wilayah Kecamatan Bringin. Selain padi, sebagian petani juga membudidayakan tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, hingga tembakau.
Secara teknis hidrologi, lahan pasang surut di sekitar waduk terbentuk fenomena akibat melemahnya muka air (drawdown). Saat musim kemarau tiba, evaporasi yang tinggi dan penyaluran air irigasi menyebabkan volume air waduk menyusut secara signifikan. Penyusutan ini menyingkap hamparan sedimen tanah aluvial di bagian tepi waduk yang tadinya tenggelam.
Tanah aluvial hasil pengendapan ini kaya akan hara dan memiliki kelembapan tinggi, sehingga sangat subur untuk ditanami tanpa memerlukan irigasi yang rumit. Namun, sistem budi daya ini bersifat situasional dan memiliki risiko alami. Petani harus menjelaskan siklus cuaca dengan presisi; jika musim hujan datang lebih cepat, waduk luapan air dapat merendam kembali kawasan pertanian tersebut sebelum masa panen tiba.
Meskipun produktivitasnya berada di kisaran 4 hingga 4,5 ton per hektar di bawah rata-rata lahan sawah irigasi teknis kehadiran lahan pasang surut ini membuktikan ketahanan adaptif dalam petani menjaga pasokan pangan lokal.
Editor : Iwan Iwe



















