NGAWI - Aliran Sungai Bengawan Solo yang melintasi wilayah Kabupaten Ngawi terpantau berubah warna menjadi hitam pekat sejak beberapa pekan terakhir. Menindaklanjuti kondisi yang diduga akibat pencemaran limbah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi menggandeng PT Mitralab Buana Surabaya untuk melakukan pengujian kualitas air.
Pengambilan sampel air dipusatkan di sekitar aliran Jembatan Ngunengan, Kecamatan Pitu, guna memastikan tingkat keamanan ekosistem air.
Petugas pengambil sampel (sampling) dari PT Mitralab Buana Surabaya, Rifki Fauzan Rahmadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan kualitas air tahap awal secara langsung di lokasi. Berdasarkan pengujian lapangan tersebut, tingkat keasaman (pH) dan oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) ternyata masih berada dalam ambang batas normal.
Tercatat, angka pH air mencapai 7,98, sedangkan tingkat oksigen terlarut berada di angka 5,3 miligram per liter. Kondisi ini dinilai masih aman bagi kelangsungan hidup biota sungai.
Meskipun indikator awal menunjukkan hasil normal, Rifki menegaskan bahwa penyebab pasti menghitamnya air sungai belum dapat disimpulkan. Sampel air dibawa ke laboratorium di Surabaya untuk menjalani pengujian lanjutan yang lebih komprehensif, mencakup parameter fisika, kimia, dan biologi.
"Untuk kondisi airnya saat ini, yang biasanya bersih, sekarang terlihat kehitaman atau kecokelatan pekat. Sampel kami ambil sesuai peraturan yang berlaku untuk parameter kimia, fisika, dan biologi. Untuk sementara yang kami cek di lapangan baru pH dan DO," jelas Rifki di lokasi.
Ia menambahkan bahwa proses pengujian lanjutan di laboratorium memerlukan waktu sekitar tiga minggu hingga hasilnya resmi dirilis.
"Kandungannya tetap harus kita uji laboratorium di Surabaya terlebih dahulu. Hasilnya kurang lebih menunggu tiga minggu. Untuk pH dan DO sendiri sementara di lapangan masih dalam batas normal," terangnya.
Hingga hasil laboratorium resmi keluar, pihak penguji belum dapat memastikan apakah perubahan warna air disebabkan oleh limbah industri, limbah rumah tangga, atau faktor alam.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang menyikapi fenomena ini. Hasil uji laboratorium tersebut nantinya akan menjadi landasan bagi pemerintah daerah dalam mengambil langkah penanganan yang tepat demi menjaga kelestarian ekosistem Bengawan Solo. (Moch Sahid/Adiybah Fawziyyah)
Editor : Iwan Iwe



















