Menu
Pencarian


Suku Tengger Rayakan Hari Raya Karo 1948 Saka, Tari Sodoran Simbol Terciptanya Langit dan Bumi

Farid Fahlevi - Kamis, 30 Juli 2026 17:00
Suku Tengger Rayakan Hari Raya Karo 1948 Saka, Tari Sodoran Simbol Terciptanya Langit dan Bumi
Perayaan Hari Raya Karo yang digelar Suku Tengger, Kabupaten Probolinggo, Kamis (30/7/2026). (Foto: Farid Fahlevi)

PROBOLINGGO - Ribuan warga Hindu Suku Tengger di lereng Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, menggelar perayaan Hari Raya Karo 1948 Saka, Kamis (30/7/2026).

Perayaan adat yang digelar di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, ini menjadi puncak ritual sakral masyarakat Tengger yang melambangkan terciptanya langit, bumi, dan seluruh isinya, termasuk kehidupan manusia yang hidup berpasangan.

Ritual tahunan tersebut diikuti warga dari tiga desa, yakni Desa Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak. Tahun ini Desa Ngadisari bertindak sebagai kemanten putra sekaligus tuan rumah, Desa Wonotoro sebagai kemanten putri, sedangkan Desa Jetak menjadi saksi dalam prosesi adat.

Prosesi diawali dengan iring-iringan warga yang membawa jimat klontongan berisi peralatan dapur tradisional berbahan kayu dan bambu. Warga juga membawa bambu sodoran yang menjadi simbol mas kawin dalam filosofi kehidupan masyarakat Tengger.

Bagi masyarakat Tengger, kata Karo berarti "berdua", yakni laki-laki dan perempuan. Karena itu, Hari Raya Karo dimaknai sebagai pengingat asal mula kehidupan sekaligus ajakan menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia.

Berbagai perlengkapan ritual seperti kuali, tanduk kerbau, hingga gayung kayu disiapkan sebagai bagian dari prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Puncak perayaan ditandai dengan Tari Sodoran, tarian sakral yang hanya dimainkan laki-laki. Dua penari membawa tongkat bambu sebagai simbol tanggung jawab kaum pria dalam menjaga kehormatan, keutuhan rumah tangga, serta keharmonisan hubungan laki-laki dan perempuan.

Tokoh Adat Suku Tengger, Supoyo, mengatakan Tari Sodoran bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi masyarakat Tengger.

"Tari Sodoran menggambarkan terciptanya dunia. Bambu sodoran menjadi simbol laki-laki dan perempuan yang dipersatukan dalam ikatan kehidupan. Melalui ritual ini kami diajarkan menjaga keharmonisan, saling menghormati, dan melestarikan warisan leluhur," ujar Supoyo.

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian Hari Raya Karo merupakan bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi atas kehidupan yang diberikan kepada umat manusia.

"Karo adalah momentum untuk mengingat asal-usul manusia sekaligus memperkuat persaudaraan di antara masyarakat Tengger. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan akan terus kami jaga," tambahnya.

Keunikan lain dalam ritual ini adalah kaum perempuan tidak diperkenankan mengikuti rangkaian awal upacara. Mereka baru memasuki lokasi ritual sekitar pukul 12.00 WIB dengan membawa rantang berisi makanan untuk suami atau ayah yang mengikuti prosesi adat.

Setelah seluruh doa dipanjatkan, makanan dalam rantang kemudian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan keharmonisan keluarga.

Perayaan Hari Raya Karo juga dihadiri Anggota DPR RI Dini Rahmania. Menurutnya, masyarakat Tengger merupakan contoh nyata kehidupan yang rukun di tengah keberagaman agama, budaya, dan suku bangsa.

"Masyarakat Tengger adalah cerminan nyata Bhineka Tunggal Ika. Mereka hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan menjaga toleransi tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang," kata Dini.

Menurut Dini, nilai-nilai yang hidup di kawasan Tengger patut menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia.

"Keramahan masyarakat Tengger sudah dikenal luas. Mereka menjaga tradisi leluhur sekaligus tetap terbuka kepada siapa pun. Semangat persaudaraan inilah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia," ujarnya.

Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya masyarakat adat Tengger agar tetap lestari dan dikenal generasi muda.

"Tradisi seperti Hari Raya Karo bukan hanya milik masyarakat Tengger, tetapi juga kekayaan budaya Indonesia yang harus dijaga bersama," pungkasnya.

Sebagai penutup rangkaian ritual, Tari Sodoran kembali dimainkan bersama oleh tiga kepala desa, yakni Kepala Desa Ngadisari, Wonotoro, dan Jetak. Tepat tengah hari, ratusan perempuan memasuki balai adat untuk menyerahkan rantang makanan kepada anggota keluarga mereka, sebelum akhirnya seluruh warga menikmati hidangan bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan syukur. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.