Menu
Pencarian


Sekolah di Ujung Jari, Karakter di Ujung Tanduk?

Portaljtv.com - Minggu, 12 Juli 2026 08:00
Sekolah di Ujung Jari, Karakter di Ujung Tanduk?
Siti Ummu Kulsum

Dahulu, ruang kelas merupakan sebuah ekosistem belajar yang kaku dengan dinding-dinding beku. Papan tulis, aroma tinta, deretan bangku, dan guru menjadi satu-satunya sumber belajar. Kini, sekat konvensional itu perlahan runtuh. Transformasi digital pendidikan telah mengubah ekosistem ruang kelas menjadi tanpa batas. Kilauan layar gawai kini menghadirkan semesta pengetahuan tepat di ujung jari siswa. Pendidikan mengalami keterbukaan akses secara luas. Siswa kini bebas belajar di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Namun, di balik akselerasi digital yang begitu cepat ini, muncul sebuah pertanyaan besar: ke mana arah pembentukan karakter anak bangsa ketika ruang kelas mulai kehilangan sentuhan manusianya?

Digitalisasi telah menggeser sebagian fungsi guru. Peran tradisional guru sebagai satu-satunya poros pengetahuan kini bergeser menjadi fasilitator. Dalam proses percepatan ilmu, implikasi positif ini tentu sangat berharga. Siswa dapat mengakses jutaan informasi pengetahuan dalam hitungan detik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu. Pendidikan adalah arsitektur jiwa dan pembentukan kompas moral generasi masa depan. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan hidup tumbuhnya budi pekerti. Di titik inilah, tantangan besar digitalisasi harus diwaspadai secara bijak.

Fenomena “sekolah di ujung jari” membawa dampak nyata berupa berkurangnya interaksi sosial yang bermakna bagi siswa. Ketika pembelajaran sepenuhnya berpindah ke ruang virtual, siswa berisiko kehilangan panggung alami untuk mengasah aspek-aspek penting dalam kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ), seperti empati, toleransi, negosiasi, dan kemampuan resolusi konflik. Layar gawai belum mampu sepenuhnya mengajarkan cara berempati, menghargai teman, atau melatih siswa menahan diri dalam sebuah kerja kelompok yang melelahkan.

Lebih jauh lagi, ruang digital yang serba cepat berisiko membentuk mentalitas serbainstan. Sistem yang dirancang untuk memudahkan pengguna ini lambat laun dapat mengikis daya juang atau adversity quotient serta kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, maraknya fenomena cyberloafing, seperti membuka media sosial atau bermain game di tengah jam pelajaran daring, menjadi bukti nyata lainnya. Kontrol diri siswa dapat melemah saat berhadapan dengan godaan dunia maya yang begitu besar.

Apakah ini berarti kita harus memutar arah jarum jam dan kembali ke era konvensional yang kaku? Tentu tidak. Menolak teknologi di era digitalisasi ini justru akan menjadi langkah mundur. Solusi yang paling moderat dan mendesak adalah penerapan metode blended learning atau pembelajaran bauran yang dipadukan secara erat dengan pendidikan karakter.

Jalan Tengah Guru dan Teknologi

Teknologi harus diletakkan pada porsinya yang tepat: sebagai alat bantu, bukan pengganti kehadiran seorang guru. Kurikulum digital harus didesain ulang agar tidak hanya mengejar ketuntasan kognitif di atas kertas, tetapi juga memuat tugas-tugas kolaboratif yang mendorong siswa berinteraksi secara sosial di dunia nyata. Di sinilah guru harus benar-benar “naik kelas”. Ketika sebagian tugas mentransfer ilmu pengetahuan sudah dibantu oleh teknologi, guru harus mengambil peran yang jauh lebih tinggi. Guru harus tampil sebagai pembangun moral, mentor, dan teladan karakter hidup yang konkret bagi siswa.

Digitalisasi pembelajaran tidak boleh mengorbankan sisi kemanusiaan anak didik. Sekolah di ujung jari harus selalu diimbangi dengan kompas moral yang kokoh di dalam dada. Tanpa karakter, teknologi hanya akan melahirkan generasi pintar yang mekanis, unggul secara intelektual tetapi kurang peka secara sosial. Menjaga keseimbangan antara kecanggihan digital dan keluhuran budi pekerti adalah tugas terbesar peradaban pendidikan kita hari ini agar karakter bangsa tidak benar-benar berada di ujung tanduk. Penguasaan digitalisasi yang bijak inilah yang nantinya akan menentukan arah masa depan peradaban kita pada era Society 5.0. (*)

Oleh: Siti Ummu Kulsum

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.