Menu
Pencarian


Mengubah Mindset Orang Tua dan Anak tentang Pilihan Sekolah: Mengakhiri Dikotomi Kualitas antara Sekolah Negeri dan Swasta

Portaljtv.com - Minggu, 12 Juli 2026 07:00
Mengubah Mindset Orang Tua dan Anak tentang Pilihan Sekolah: Mengakhiri Dikotomi Kualitas antara Sekolah Negeri dan Swasta
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP. (Foto: Dok Pribadi)

Setiap tahun ajaran baru, kegaduhan yang sama selalu terulang. Para orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri yang dianggap sebagai sekolah berkualitas nan menjamin masa depan. Tidak sedikit yang titip sana sini, berpindah domisili, dan menggunakan berbagai macam cara agak anaknya bisa diterima di sekolah dambaan.

Tidak jarang saat dambaan tidak terwujud, mereka mengalami kekecewaan mendalam ketika anaknya tidak diterima. Di sisi lain, banyak sekolah swasta masih dipandang sebagai pilihan kedua, bahkan pilihan terakhir.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Indonesia bukan hanya tentang akses dan mutu, tetapi juga tentang mindset masyarakat. Masih menguatnya dikotomi antara sekolah negeri dan sekolah swasta telah membentuk persepsi bahwa sekolah negeri selalu lebih berkualitas. Padahal, asumsi tersebut tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Paradigma seperti ini perlu diubah. Pendidikan yang berkualitas tidak ditentukan oleh status sekolah, melainkan oleh kualitas proses pembelajaran, kepemimpinan sekolah, kompetensi guru, budaya belajar, serta dukungan orang tua dan lingkungan masyarakat.

Stigma bahwa sekolah negeri lebih unggul lahir dari berbagai faktor. Sejak lama, sekolah negeri memperoleh dukungan fasilitas pembiayaan yang lebih besar dari pemerintah sehingga biaya pendidikan relatif lebih terjangkau. Di sisi lain, keberhasilan sejumlah sekolah negeri dalam mencetak prestasi akademik turut memperkuat citra sebagai sekolah favorit.

Namun, perkembangan dunia pendidikan telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Banyak sekolah swasta kini justru menjadi pelopor inovasi pendidikan. Mereka menawarkan kurikulum yang adaptif, pembelajaran berbasis teknologi, penguatan karakter, pendidikan keagamaan, penguasaan bahasa asing, hingga pengembangan bakat dan minat peserta didik secara lebih personal.

Tidak sedikit sekolah swasta yang berhasil melahirkan lulusan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Sebaliknya, tidak semua sekolah negeri memiliki kualitas yang sama. Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas sekolah tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan status penyelenggaranya.

Sayangnya, persepsi masyarakat sering kali lebih dipengaruhi oleh gengsi daripada kebutuhan anak. Banyak orang tua memilih sekolah karena label "favorit", bukan karena kesesuaian dengan karakter, kemampuan, dan potensi putra-putrinya. Akibatnya, anak justru menghadapi tekanan psikologis, kesulitan beradaptasi, bahkan kehilangan motivasi belajar karena berada di lingkungan yang tidak sesuai.

Padahal, setiap anak memiliki kecerdasan, bakat, dan gaya belajar yang berbeda. Ada anak yang berkembang optimal di sekolah dengan jumlah siswa sedikit sehingga mendapatkan perhatian lebih intensif. Ada pula yang lebih nyaman dalam lingkungan berbasis keagamaan, vokasional, atau sekolah yang menonjolkan kreativitas dan kepemimpinan.

Dalam perspektif kebijakan publik, dikotomi negeri dan swasta juga berdampak pada ketimpangan ekosistem pendidikan. Ketika masyarakat hanya berorientasi pada sekolah negeri, terjadi penumpukan peserta didik pada sekolah tertentu, sementara banyak sekolah swasta mengalami kekurangan siswa. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlangsungan lembaga pendidikan swasta yang selama ini telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Padahal, sejak era sebelum dan awal kemerdekaan, sekolah swasta memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pembangunan pendidikan nasional. Dengan jumlah perbandingan kurang lebih 1 sekolah negeri berbanding 3 sekolah swasta.

Berbagai organisasi masyarakat, yayasan keagamaan, dan lembaga pendidikan swasta telah hadir jauh sebelum pemerintah mampu menyediakan layanan pendidikan secara merata. Hingga kini, keberadaan sekolah swasta tetap menjadi pilar penting dalam memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat.

Ada sekolah berbasis pondok pesantren yang saat ini sudah menjadi pilihan utama para orang tua. Dimana lembaga ini menawarkan program pembelajaran yang mengkolaborasikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum.

Karena itu, pemerintah perlu membangun kebijakan yang lebih berkeadilan antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Kesetaraan akses terhadap peningkatan mutu guru, bantuan sarana prasarana, transformasi digital, hingga kesempatan mengikuti program pengembangan harus diberikan tanpa diskriminasi.

Pendidikan adalah pelayanan publik yang harus menjamin mutu bagi seluruh peserta didik, apa pun status sekolahnya. Di sisi lain, sekolah swasta juga perlu terus meningkatkan kualitas layanan, transparansi tata kelola, inovasi pembelajaran, dan kepercayaan publik. Kompetisi antarsekolah semestinya diarahkan pada peningkatan mutu, bukan sekadar perebutan jumlah peserta didik.

Peran media juga sangat penting dalam membentuk opini publik. Selama ini, pemberitaan sering kali hanya menyoroti persaingan masuk sekolah negeri atau daftar sekolah favorit. Media perlu lebih sering mengangkat cerita sukses sekolah swasta yang mampu mencetak lulusan berprestasi unggul, berkarakter, kreatif, inovatif, dan berdaya saing.

Yang tidak kalah penting adalah perubahan cara berpikir orang tua. Mengutip pendapat Dr. James Riadi menyebutkan bahwa Keberhasilan pendidikan terutama di Indonesia ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni peran orangtua, institusi agama dan institusi pendidikan. Itu artinya bahwa Keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh faktor tunggal. Keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh nama besar sekolah, melainkan oleh sinergi dan dukungan banyak faktor.

Sekolah terbaik bukanlah sekolah yang paling bergengsi, tetapi sekolah yang mampu membantu setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sudah saatnya kita mengakhiri dikotomi yang tidak produktif sekaligus merubah mindset antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Yang harus menjadi ukuran bukan lagi status lembaga, melainkan kualitas layanan pendidikan yang diberikan. Ketika semua pihak mampu melihat pendidikan secara lebih objektif, maka setiap sekolah akan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan setiap anak akan memperoleh ruang terbaik untuk mengoptimalkan potensinya.

Tujuan pendidikan bukanlah sekadar diterima di sekolah favorit, melainkan membentuk generasi yang mampu belajar sepanjang hayat, beradaptasi dengan perkembangan zaman, memiliki karakter yang kuat, serta siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Perubahan besar dalam pendidikan selalu diawali dengan perubahan cara pandang. (*)

Penulis:

Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.

Pengamat Sosial & Kebijakan Publik

(Wakil Ketua Umum MUI & Ketua FKUB Kota Probolinggo)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.