Rencana Pemerintah Indonesia untuk meminjamkan sepasang komodo ke Jepang melalui program breeding loan menuai sorotan dari kalangan aktivis perlindungan hewan.
Program breeding loan sendiri merupakan skema kerja sama konservasi antarnegara yang bertujuan menjaga keberlanjutan populasi satwa langka melalui pengembangbiakan di luar habitat aslinya.
Di sisi lain, rencana ini juga mendapat kritik dari organisasi perlindungan hewan People for the Ethical Treatment of Animals (PETA). Presiden PETA Asia, Jason Baker, menyatakan bahwa komodo seharusnya tidak dijadikan bagian dari pertukaran diplomatik.
Program tersebut sebelumnya merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang dalam upaya konservasi, di mana dua ekor komodo akan dipinjamkan ke iZoo untuk dikembangbiakkan.
Baca Juga : Banyuwangi Luncurkan Destinasi Spot Fishing Center
Pemerintah menilai langkah ini sebagai bagian dari diplomasi hijau serta upaya meningkatkan kesadaran global terhadap pelestarian satwa langka. Selain itu, kerja sama ini juga mencakup rencana pertukaran satwa lain seperti panda merah dan jerapah.
Namun, kritik dari PETA menyoroti aspek kesejahteraan satwa dalam program tersebut.
“Mengirim hewan-hewan yang sangat cerdas ini ke luar negeri untuk program pembiakan di penangkaran hanya memperkuat mitos berbahaya bahwa konservasi dapat dilakukan di balik tembok kebun binatang,” ujar Jason Baker, melansir Reuters, Rabu (31/3).
Baca Juga : Perjuangan Pokdarwis Sanggaria Selamatkan Penyu di Pantai Sanggar Tulungagung
“Sementara anak-anak yang lahir di sana akan terpaksa menjalani hidup dalam kurungan seumur hidup,” tambahnya.
Menurutnya, satwa seperti komodo seharusnya tetap berada di habitat aslinya, karena kehidupan di penangkaran dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi alami.
Berdasarkan data pemerintah, Indonesia menjadi habitat bagi lebih dari 3.000 ekor komodo. Reptil ini merupakan kadal terbesar di dunia dengan panjang yang dapat mencapai sekitar tiga meter, sekaligus menjadi salah satu spesies endemik yang dilindungi.
Baca Juga : Trenggalek Selamatkan Laut Lewat Festival MUFON dan Penanaman Terumbu Karang
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi satwa liar, khususnya melalui kerja sama internasional, masih menjadi perdebatan antara pendekatan pelestarian dan aspek kesejahteraan hewan, meski keduanya memiliki tujuan yang sama dalam menjaga keberlangsungan satwa. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe

















