Hari ini, Jawa Timur dikenal sebagai sentra utama susu sapi perah di Indonesia. Wilayah ini menjadi tulang punggung produksi nasional dan menghidupi ribuan peternak rakyat. Namun di balik kuatnya ekosistem tersebut, ada perjalanan panjang yang dibangun dari kemitraan yang tumbuh secara konsisten selama puluhan tahun. Selama lebih dari lima dekade, kerja sama telah dibangun oleh Nestlé Indonesia bersama dengan para peternak sapi perah.

Perjalanan ini lahir dari semangat ‘Good food, Good life,’ serta kehadiran Nestlé untuk senantiasa menggunakan potensi makanan dan minuman guna meningkatkan kualitas hidup setiap individu saat ini dan untuk generasi mendatang. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan sistem pangan, dukungan terhadap komunitas, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, dimulai dari tingkat hulu.

Sejak awal, pendekatan yang dilakukan oleh Nestlé Indonesia diwujudkan melalui praktik Responsible Sourcing, yang memastikan bahan baku diperoleh secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. arena makanan yang baik berawal dari bahan baku berkualitas tinggi, dan hal tersebut merupakan bentuk komitmen yang dimulai dari tingkat hulu, melalui kemitraan dengan petani serta peternak, yang telah dijalankan selama beberapa generasi.

Langkah awal di tanah air dimulai pada tahun 1975, ketika Nestlé Indonesia menyerap 160 liter susu segar dari sebuah koperasi di Malang, Jawa Timur. Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil, namun menjadi titik awal terbentuknya rantai pasok susu lokal yang lebih erat dengan peternak sapi perah. Seiring waktu, koperasi-koperasi peternak sapi binaan Nestle Indonesia mulai berkembang dan turut memasok susu segar ke fasilitas produksinya, termasuk di Pabrik Kejayan, Jawa Timur, yang memproduksi berbagai produk susu seperti DANCOW dan BEAR BRAND.

Kemitraan yang terjalin antara Nestlé Indonesia dan peternak sapi perah rakyat senantiasa berkembang melalui dukungan dan partisipasi dua arah yang saling menguatkan. Pada tahun 2007, pembentukan tim Milk Procurement & Dairy Development (MPDD) dilakukan sebagai kelanjutan dari inisiatif Agriservice yang telah dimulai dari hampir dua dekade sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghadirkan pendampingan yang lebih terfokus dan terintegrasi bagi para mitra, sekaligus memperkuat pengembangan koperasi peternak di wilayah Jawa Timur. Di saat yang sama, pendekatan dilakukan untuk memastikan kesejahteraan peternak dan keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Dukungan serta pembinaan tim MPDD Nestlé Indonesia dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar ternak. Peternak didampingi untuk memastikan ketersediaan pakan dan air yang memadai, melalui pembinaan terkait penyusunan komposisi pakan yang seimbang sesuai kebutuhan ternak, serta pemahaman akan pentingnya nutrisi pada konsumsi ternak. Hal ini didukung dengan penggunaan mesin pencacah panak (chopper) serta sistem water ad libitum agar konsumsi air ternak tetap terpenuhi dengan baik.

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, pendampingan berlanjut pada penguatan praktik pemeliharaan yang lebih baik. Peternak dibekali pengetahuan untuk menerapkan manajemen kesehatan ternak yang lebih terstruktur, mulai dari pemantauan kondisi sapi hingga penanganan penyakit. Kenyamanan ternak pun menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Sirkulasi udara di dalam kandang dijaga agar tetap baik melalui penggunaan kipas angin, sehingga membantu menjaga kondisi ternak tetap nyaman, terutama di tengah suhu lingkungan yang tinggi.

Selanjutnya, peningkatan fasilitas kandang dilakukan melalui pembangunan closed barn system. Dilengkapi dengan cooling pad dan exhaust fan, suhu kandang akan tetap terjaga stabil di tengah kondisi iklim tropis, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung produktivitas ternak. Hingga saat ini, Nestlé Indonesia telah mendukung pembangunan 50 unit closed barn system di Jawa Timur.

Seiring dengan upaya menjaga kualitas dari proses di kandang, pengelolaan hasil ternak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Untuk itu, transformasi dilakukan di sisi digital melalui kehadiran lebih dari 70 pos penampungan digital sejak 2020. Sistem ini memungkinkan pencatatan data secara real-time, sehingga proses penerimaan susu menjadi lebih akurat, transparan, dan efisien, sekaligus mempercepat administrasi dan pembayaran kepada peternak.

Lebih lanjut, dalam pengelolaan usaha peternakan secara menyeluruh, pengolahan limbah ternak menjadi bagian penting dalam pembinaan. Limbah ternak pun dimanfaatkan sebagai energi terbarukan melalui instalasi biogas. Hingga saat ini, dukungan pembangunan lebih dari 8.700 unit biogas telah diberikan, membantu mengurangi emisi sekaligus menyediakan energi alternatif bagi rumah tangga peternak. Selain itu, limbah ternak juga dapat diolah menjadi pupuk organik melalui lebih dari 2.000 unit manure application, yang kemudian digunakan untuk lahan pertanian. Dengan demikian, tercipta siklus yang lebih berkelanjutan, di mana pengelolaan kandang, hasil ternak, hingga limbah saling terhubung dan memberikan nilai tambah bagi peternak.

Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, sektor peternakan sapi perah juga dihadapkan pada tantangan besar yang menguji ketahanan ekosistem ini. Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 2022 menjadi salah satu ujian terbesar bagi peternak. Dalam situasi tersebut, dukungan diberikan melalui bantuan pakan dan vitamin. Upaya pemulihan pasca wabah PMK menunjukkan bahwa ketahanan industri susu tidak hanya ditentukan oleh respons jangka pendek, tetapi juga oleh penguatan berkelanjutan di tingkat peternak. Dalam hal ini, Nestlé Indonesia terus menghadirkan dukungan yang memungkinkan peternak untuk berkembang, termasuk melalui akses terhadap teknologi modern, bantuan finansial, dan skema pinjaman tanpa bunga.

Salah satu gambaran nyata terlihat dari Zuliyanti, peternak sapi perah muda di Tulungagung. Berawal dari dua ekor sapi pada 2005, usaha keluarganya kini berkembang menjadi sekitar 30 ekor. Seiring pendampingan dari tim MPDD, kandang yang sebelumnya sederhana bertransformasi menjadi lebih terbuka dan modern, dilengkapi mesin perah, kipas ventilasi, serta mesin pencacah pakan. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas susu, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi ternak dan mendukung keberlanjutan usaha keluarga.

Kisah Zuliyanti mencerminkan bagaimana kemitraan yang dijalankan tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi juga berperan dalam menopang kesejahteraan peternak. Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim MPDD menjadi bentuk dukungan nyata Nestlé Indonesia terhadap mitra peternak sapi perah rakyat yang bermakna. Hingga kini, Nestlé Indonesia telah bermitra dengan lebih dari 28 koperasi dan mendampingi ribuan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur, yang secara kolektif menghasilkan sekitar 350.000 kilogram susu segar setiap hari dari sekitar 60.000 ekor sapi. Setiap tahunnya, penyerapan susu yang mencapai lebih dari Rp1 triliun menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan rantai pasok sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi peternak. Lebih dari itu, kemitraan jangka panjang ini menunjukkan bahwa ketika peternak didukung untuk tumbuh, ekosistem persusuan pun menjadi lebih tangguh, mendorong masa depan sistem pangan Indonesia yang lebih berkelanjutan, dimana aksi nyata membawa suatu makna untuk kebaikan bersama.
Editor : Iwan Iwe



















