KOTA MALANG - Di tengah padatnya kawasan Jalan Zainal Arifin No. 62, Kecamatan Klojen, berdiri sebuah depot legendaris yang namanya sudah akrab di telinga pecinta kuliner: Rawon Nguling. Tak sekadar tempat makan, lokasi ini menyimpan cerita panjang perjalanan sejarah Kota Malang.
Cikal bakal bangunan ini sudah ada sejak 1928. Pada masa itu, tempat tersebut dikenal sebagai Gedung Flora, sebuah pusat hiburan yang cukup populer di zamannya. Kompleks ini bukan hanya sekadar bangunan biasa, melainkan area hiburan lengkap dengan ruang biliar, barber shop, hingga deretan toko makanan.

Gedung Flora juga sempat berfungsi sebagai bioskop dengan nama Flora Cinema. Setelah Indonesia merdeka, fungsi bangunan mengalami perubahan, namun struktur utamanya tetap dipertahankan. Gedung ini kemudian dikenal sebagai Gedung Wijaya Kusuma dan difungsikan sebagai gedung kesenian.
Baca Juga : Rawon Nguling, Jejak Rasa di Bangunan Penuh Sejarah Kota Malang
Pada masanya, Gedung Wijaya Kusuma menjadi saksi tumbuhnya berbagai pertunjukan seni tradisional maupun modern. Pementasan ludruk dan ketoprak rutin digelar di sini. Bahkan sejumlah kelompok seni ternama seperti Srimulat, Lokaria, dan Ketoprak Siswobudoyo pernah meniti karier dari panggung gedung tersebut. Keberadaannya bertahan hingga sekitar tahun 1970-an.

Seiring perkembangan kota, kawasan ini berubah menjadi area pertokoan. Pada tahun 1982, bangunan yang pernah menjadi pusat kesenian itu resmi beralih fungsi menjadi Depot Rawon Nguling. Sejak saat itu, tempat ini dikenal luas sebagai destinasi kuliner khas dengan sajian rawon bercita rasa kuat dan autentik.
Baca Juga : Nasi Jangkrik, Kuliner Legendaris Kudus Ditanggung Rasa Juara
Perubahan fungsi bangunan memang menandai berakhirnya era gedung kesenian di lokasi tersebut. Namun semangat para seniman tak padam. Perjuangan mereka melahirkan ruang pertunjukan baru yang kini dikenal sebagai Taman Krida Budaya di kawasan Soekarno-Hatta.
Kini, Rawon Nguling tak hanya menawarkan seporsi rawon hangat dengan kuah hitam khas kluwek, tetapi juga menyuguhkan sepenggal sejarah panjang Kota Malang. Datang ke sini bukan hanya soal kuliner, melainkan juga menyusuri jejak masa lalu yang masih terasa hingga hari ini. (Prakerin-Zulfa)
Editor : JTV Malang



















