NGAWI - Sejumlah warga Desa Pohkonyal, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, menekuni usaha kerajinan anyaman tas berbahan plastik. Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan sebagai usaha sampingan sejak 2008 tersebut kini berkembang dan mampu menembus pasar luar Jawa.
Aktivitas membuat tas anyaman dilakukan ibu-ibu warga setempat setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Mereka berkumpul di salah satu rumah warga untuk mengerjakan berbagai jenis tas dengan bahan plastik.
Pemilik UMKM tas anyaman plastik, Komari, 45 tahun, mengatakan usaha tersebut dirintis sejak 2008. Sebelumnya, ia berjualan sayuran, namun karena hasilnya dinilai kurang menjanjikan, Komari kemudian beralih menekuni usaha tas anyaman.
Melihat tingginya potensi pasar, Komari mulai memproduksi tas secara mandiri. Dari awalnya hanya mampu menghabiskan sekitar 3 hingga 4 gulungan plastik, kini kebutuhan bahan baku meningkat hingga mencapai 50 sampai 70 gulungan.
Meningkatnya permintaan pasar juga membuat Komari melibatkan warga sekitar hingga luar desa dalam proses produksi. Saat ini, sekitar 40 orang ikut mengerjakan tas anyaman tersebut.
Dalam sehari, produksi dapat mencapai 1.000 hingga 1.500 tas. Harga setiap tas berkisar Rp4.000 hingga Rp8.500, tergantung ukuran dan jenisnya.
Pemasaran produk pun semakin luas. Tas anyaman plastik produksi warga Desa Pohkonyal kini telah dikirim ke sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Bali, Jakarta hingga Sumatera.
Sementara itu, Kepala Desa Pohkonyal, Sukirno, menyebut keberadaan usaha anyaman plastik turut membantu perekonomian masyarakat. Saat ini, setidaknya terdapat sekitar 10 pengepul atau pemilik usaha anyaman yang menjalankan kegiatan produksi di desanya.
Meski dikerjakan sebagai kegiatan sampingan, kerajinan anyaman tas plastik mampu memberikan tambahan penghasilan bagi warga. Setiap pekerja mendapatkan ongkos sekitar Rp1.300 hingga Rp2.400 untuk menyelesaikan satu tas, tergantung ukuran dan tingkat pengerjaannya.
Editor : JTV Madiun

















