Cuaca yang tidak menentu dengan hujan terus-menerus sepanjang hari sangat berdampak pada para produsen bibit cabai di Kabupaten Bondowoso. Salah satunya produksi bibit milik Alwi, 54 tahun, warga Dusun Pecut, Desa Suger Lor, Kecamatan Maesan.
Sejak musim hujan turun, omzet para produsen bibit menurun hingga 50 persen. Para petani yang biasanya membeli bibit kini masih beristirahat dan memilih menanam komoditas pertanian lain. Setiap harinya, Alwi hanya menggarap bibit dalam jumlah sedikit untuk melayani pesanan.
Untuk membuat bibit, dibutuhkan media tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan arang sekam. Campuran tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik panjang, kemudian dipotong-potong untuk diisi biji cabai rawit.
Setiap hari, bibit harus dirawat secara ekstra, yakni disiram secara rutin dan dibersihkan dari hama. Bibit cabai rawit siap tanam setelah berumur satu bulan, dengan kondisi batang yang kuat dan perakaran yang subur.
Dalam setiap balok berisi 500 pohon, Alwi Hasan menjual bibit kepada petani dengan harga Rp50.000. Pembeli bibit di lokasi ini berasal dari Bondowoso, Jember, dan Kabupaten Situbondo.
Berdasarkan pengalaman, produsen bibit memprediksi akan terjadi kenaikan omzet mulai bulan Juni hingga Agustus, seiring petani yang kembali menanam cabai secara serentak.
Editor : JTV Jember



















