MAGETAN - Musim kemarau membuat petani sawah tadah hujan di Desa Joketro, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan beralih pekerjaan. Mereka memilih mencari batu di sungai untuk mendapatkan penghasilan.
Sulasmi, warga setempat mengaku terpaksa menjadi pencari batu dan pasir demi menyambung hidup. Pasalnya, sawah tidak bisa digarap lagi akibat musim kemarau yang terjadi saat ini.
Sulasmi menuturkan, saat menambang pasir, ia dan warga lainnya berendam dan mengeruk pasir menggunakan alat seadanya. Kemudian, dimasukkan dalam tenggok bambu. Selanjutnya, digendong dan dikumpulkan di pinggir sungai.
Jika batu yang dikumpulkan agak besar, Sulasmi dan warga memecahnya terlebih dahulu secara manual hingga jadi batu koral atau batu split.
Baca Juga : Dilanda Kekeringan, Warga Pasuruan Serbu Bantuan Air Bersih dari Kendaraan Water Cannon
Untuk pasir dalam dua hari bisa langsung dijual. Untuk batu sekitar seminggu baru bisa dijual. Untuk harga pasir atai batu yang sudah dipecah biasanya mereka jual Rp. 200 ribu per satu mobil pick up.
“Warga beralih profesi jadi pencari batu dan pasir karena sawah dan ladang kering. Ya menguntungkanlah cari batu sama pasir dijual," kata Sulasmi kepada portaljtv.com, Sabtu (12/8/2023).
Sulasmi menjelaskan, batu besar yang dijual digunakan untuk membangun rumah, sedangkan batu kecil untuk ngecor.
Baca Juga : Kebakaran Hutan di Tulungagung Hampir Rambah Permukiman Warga
Sulasmi mengungkapkan, bila mencari batu dan pasir sudah dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Bahkan, sejak masa muda orang tuanya. Hal ini dikarenakan kondisi geografis di wilayah Joketro hanya bisa digunakan cocok tanam ketika musim penghujan.
"Nanti kalau sudah musim penghujan baru kembali ke sawah lagi, menanam padi jagung dan sayuran,” kata Sulasmi.M.Ramzi)
Editor : Ferry Maulina