LUMAJANG - Inilah rutinitas perjuangan warga Desa Dadapan, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, untuk mendapatkan air bersih. Sebuah jerigen berisi 20 liter air harus disunggi atau dibawa di atas kepala menyusuri jalan desa dan perkebunan sebelum akhirnya tiba di rumah.
Seperti yang dilakukan Suliana, 50 tahun. Rumahnya berjarak lebih dari 200 meter dari titik dropping air bersih. Bersama sejumlah warga lainnya, ia harus menahan beban jerigen berisi penuh sambil berjalan di bawah terik matahari demi memenuhi kebutuhan air keluarganya.
Sesampainya di rumah, air tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari minum, memasak, hingga kebutuhan sehari-hari. Bagi warga setempat, inilah perjuangan yang harus dilakukan setiap hari untuk memperoleh air bersih. Jerigen kosong dibawa ke titik dropping, kemudian diisi dan diangkut kembali ke rumah.
Siklus tersebut terus berulang selama pasokan air bersih belum kembali tersedia di lingkungan mereka. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mencatat jumlah titik dropping maupun permintaan bantuan air bersih terus meningkat. Hingga saat ini, dropping air telah dilakukan di tiga kecamatan dan diperkirakan akan meluas hingga 19 desa di enam kecamatan yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
Saat ini, bantuan air bersih tidak hanya berasal dari Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui BPBD, tetapi juga mulai berdatangan dari berbagai instansi lain untuk membantu memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Editor : JTV Jember



















