PROBOLINGGO - Menjelang puncak pelaksanaan Ritual Yadnya Kasada 1948 Saka, masyarakat Suku Tengger menggelar prosesi pengukuhan 10 pejabat sebagai Warga Kehormatan Suku Tengger. Prosesi sakral tersebut berlangsung dalam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Minggu (31/5/2026) malam.
Pengukuhan dilakukan langsung oleh Romo Dukun Pandita Sutomo didampingi Kepala Desa Ngadisari Sunaryono beserta istri. Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari rangkaian perayaan Kasada yang setiap tahun digelar oleh masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo.
Sepuluh tokoh yang menerima penghargaan sebagai warga kehormatan tersebut di antaranya Dandim 0820 Probolinggo beserta istri, Danyon TP 836 Brama Yodha beserta istri, Kapolres Probolinggo Kota, Kapolres Probolinggo beserta istri, Kepala Kejaksaan Negeri Probolinggo, Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo, serta Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat Tengger yang masih menjaga tradisi leluhur, kerukunan, dan kelestarian alam.
Baca Juga : Menengok Rumah Adat Suku Tengger yang Masih Terjaga Meski Telah Dipugar
“Kalau datang ke Bromo, khususnya Sukapura, saya selalu merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Kalau sudah merasa rumah sendiri, rasanya malas untuk pulang,” ujar Haris.
Menurutnya, Bromo tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya semata, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang diwariskan masyarakat Tengger dari generasi ke generasi.
“Kita bicara tentang Bromo bukan hanya soal matahari terbit, lautan pasir, atau keindahan gunungnya. Tetapi kita juga bicara bagaimana menjaga tradisi, menjaga kerukunan, menjaga alam, dan menjaga persaudaraan. Inilah yang membuat masyarakat Tengger begitu istimewa,” katanya.
Haris menjelaskan, Ritual Yadnya Kasada merupakan warisan budaya yang sarat makna pengorbanan dan keikhlasan. Ia kembali mengisahkan legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang menjadi asal-usul pelaksanaan Kasada.
“Yadnya Kasada mengajarkan tentang keikhlasan dan pengorbanan. Kisah Kusuma yang rela mengorbankan dirinya demi menepati janji menjadi pengingat bagi kita semua tentang nilai ketulusan dan pengabdian,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Haris juga menyoroti kuatnya toleransi antar umat beragama yang tumbuh di kawasan Tengger. Menurutnya, pelaksanaan Kasada tahun ini berdekatan dengan sejumlah perayaan keagamaan lain sehingga menjadi simbol harmoni yang nyata di tengah masyarakat.
“Kita sedang berada di momentum yang luar biasa. Ada Hari Raya Idul Adha yang mengajarkan keikhlasan melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ada pula Hari Raya Waisak yang dirayakan umat Buddha. Malam ini kita juga merayakan Yadnya Kasada. Ini menunjukkan bahwa toleransi hidup dan tumbuh dengan sangat baik di sini,” ungkapnya.
Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Probolinggo berkomitmen memberikan perlindungan terhadap keberadaan masyarakat adat Tengger. Salah satunya dengan menerbitkan Surat Keputusan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Tengger.
“Pemerintah Kabupaten Probolinggo memandang masyarakat Tengger bukan hanya bagian dari sejarah daerah, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia,” tegas Haris.
“Kami sudah menerbitkan surat keputusan pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat Tengger. Mudah-mudahan langkah ini juga diikuti daerah lain yang menjadi wilayah masyarakat Tengger seperti Pasuruan, Malang, dan Lumajang,” imbuhnya.
Bupati Haris mengucapkan selamat kepada para pejabat yang dikukuhkan sebagai warga kehormatan. Ia juga berkelakar bahwa status tersebut membawa tanggung jawab untuk semakin dekat dengan masyarakat Tengger.
“Selamat merayakan Yadnya Kasada 2026. Semoga seluruh rangkaian acara berjalan sukses, masyarakat Tengger selalu diberi kesehatan, kedamaian, dan keberkahan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya. (*)
Editor : M Fakhrurrozi

















