SURABAYA - Lepas dari tekanan hidup di desa ternyata tidak serta-merta membuat seseorang menemukan kebebasan. Hal itulah yang coba diangkat dalam film Sangkar yang Berpindah melalui tokoh Lasi, perempuan yang terus berpindah mencari ketenangan, tetapi tetap terjebak dalam berbagai bentuk keterkurungan.
Film karya mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya ini diadaptasi dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Meski diangkat dari novel, tim produksi melakukan sejumlah penyesuaian dalam proses ekranisasi agar cerita lebih sesuai dengan bentuk visual film.
Mengikuti perjalanan Lasi, perempuan desa yang hidupnya berubah setelah diselingkuhi suaminya sendiri hingga menjadi bahan gunjingan warga. Tekanan tersebut membuat Lasi memilih pergi ke kota demi mencari kehidupan yang lebih tenang dan bebas.
Namun, kehidupan barunya justru kembali menempatkan dirinya dalam situasi yang membatasi kebebasannya sendiri.
Baca Juga : Film Pakaryan Gandeng Kajawi, Satukan Kritik Sosial dalam Musik dan Film
Sutradara film, Farel, mengatakan pesan utama yang ingin dipertahankan dari novel adalah tentang perempuan yang kerap tidak benar-benar mendapatkan kebebasan yang mereka inginkan.
“Ketika perempuan mencoba mengikuti kata hatinya dan mencari kebebasan, terkadang kebebasan itu hanya bersifat sementara,” jelasnya.
Hal tersebut juga menjadi alasan perubahan judul dari Bekisar Merah menjadi Sangkar yang Berpindah. Menurut Farel, judul baru tersebut dipilih karena dianggap mampu menggambarkan keterkurungan yang dialami tokoh Lasi sepanjang cerita.
Baca Juga : Film Di Ujung Pematang Angkat Bobroknya Birokrasi Desa
“Lasi itu seperti tidak pernah benar-benar bebas. Jadi kami mengambil simbol sangkar untuk menggambarkan hidupnya,” ujarnya.
Meski sangkar yang ditempati Lasi terus berubah, tekanan dan penderitaan yang ia alami tetap mengikuti ke mana pun dirinya pergi. Karena itu, film ini tidak hanya berbicara tentang perpindahan tempat, tetapi juga tentang usaha seseorang mencari ruang aman dalam hidupnya.
Baca Juga : Rekomendasi Film Bioskop untuk Menemani Long Weekend Awal Mei 2026
Selain perubahan judul, film ini juga mempertahankan identitas visual warna merah yang sudah melekat pada tokoh Lasi sejak di novel. Warna merah digunakan sebagai bagian dari color palette karakter untuk memperkuat suasana emosional yang dibangun dalam cerita.
“Warna merah memang sudah identik dengan Lasi sejak di novelnya, jadi kami tetap mempertahankan itu di film,” jelas Farel.
Sebagai bentuk ekranisasi, tim produksi juga melakukan beberapa penyesuaian cerita, termasuk pengurangan dan penambahan tokoh. Namun, perubahan tersebut dilakukan tanpa menghilangkan inti pesan yang ingin disampaikan dalam novel aslinya.
Baca Juga : Fadli Zon Wacanakan Aturan Jeda Tayang Film, Bioskop Dapat Hak Eksklusif Empat Bulan
Produser film, Tiffany, berharap film ini tidak hanya berhenti pada screening kampus semata. Menurutnya, film ini juga akan diarahkan untuk menjangkau penonton yang lebih luas melalui berbagai distribusi dan festival film.
“Harapannya film ini tidak berhenti di screening kampus saja, tetapi juga bisa didistribusikan ke lebih banyak penonton dan mengikuti festival film ke depannya,” ujar Tiffany selaku produser.
Melalui Sangkar yang Berpindah, tim produksi ingin menghadirkan cerita tentang perempuan, keterbatasan, dan pencarian kebebasan yang masih dekat dengan realitas kehidupan saat ini.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe



















