NGAWI - Sejumlah peternak ayam petelur di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, mulai mengurangi populasi ternaknya akibat anjloknya harga telur yang tidak diimbangi dengan penurunan harga pakan. Kondisi tersebut membuat para peternak mengalami kerugian dan terpaksa melakukan efisiensi agar usaha tetap bertahan.
Salah satu peternak, Sumarno, mengatakan dirinya masih menjalankan usaha seperti biasa. Namun, dari tiga kandang yang dimiliki, sebagian besar kini dikosongkan untuk menekan biaya operasional.
Dari kapasitas sekitar 3.000 ekor ayam, saat ini hanya tersisa sekitar 1.000 ekor. Menurutnya, harga telur di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp19.000 per kilogram, jauh di bawah harga yang dinilai mampu menutup biaya produksi.
"Harga telur saat ini sekitar Rp19 ribu per kilogram, sementara harga pakan masih tinggi. Kondisi ini membuat kami terpaksa mengurangi jumlah ayam agar kerugian tidak semakin besar," ujar Sumarno.
Baca Juga : Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Probolinggo Terpaksa Rumahkan Karyawan
Ketua Kelompok Unggas Mandiri Desa Ploso, Rokhim, menyebut kondisi serupa dialami hampir seluruh anggota kelompoknya. Dari total 43 peternak ayam petelur yang tergabung dalam kelompok tersebut, sebagian besar sedang menghadapi tekanan usaha akibat tingginya biaya produksi dan rendahnya harga jual telur.
Menurut Rokhim, banyak peternak terpaksa mengurangi populasi ayam hingga 40 persen sebagai langkah efisiensi agar usaha tetap berjalan.
"Hampir semua anggota kelompok mengalami kondisi yang sama. Banyak peternak mengurangi populasi ayam hingga sekitar 40 persen karena harga pakan tidak sebanding dengan pendapatan dari penjualan telur. Jika situasi ini berlangsung dua hingga tiga bulan lagi, kami khawatir banyak peternak tidak mampu bertahan," kata Rokhim.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur maupun harga pakan. Mereka menilai kebijakan yang tepat diperlukan agar usaha peternakan ayam petelur rakyat tetap berkelanjutan dan tidak semakin banyak peternak yang menghentikan usahanya.
Editor : JTV Madiun



















