SURABAYA - Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) kini tengah menjadi sorotan serius dari berbagai pihak. Pelatihan kerja yang sedianya bertujuan positif tersebut menuai kritik tajam setelah adanya laporan mengenai beberapa peserta yang meninggal dunia saat mengikuti proses diklat.
Menanggapi insiden tragis tersebut, Pakar Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), Edi Priyanto, ikut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa jika sampai terjadi insiden fatal yang merenggut nyawa dalam sebuah program pelatihan, maka sektor utama yang wajib dikoreksi adalah sistem pelaksanaannya.
Menurut Edi, dalam prinsip tata kelola dan kebijakan SDM modern, aspek keselamatan manusia wajib ditempatkan di posisi paling atas dan menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
"Latsarmil pada dasarnya merupakan sebuah ikhtiar yang baik untuk membangun karakter peserta. Tujuannya bukan sekadar melatih ketahanan fisik, melainkan untuk menanamkan kedisiplinan, integritas tinggi, dan jiwa kepemimpinan," ujar Edi Priyanto, Sabtu (4/7/2026).
Namun, Dosen Manajemen SDM di Universitas 11 Maret (UNS) dan STIAMAK Barunawati Surabaya ini memberikan catatan kritis. Ia mengingatkan bahwa karakter yang kuat tidak akan pernah lahir dari metode yang tidak terkelola dengan matang.
"Karakter SDM terbaik itu dibentuk melalui proses yang disiplin, terukur, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan," tegasnya.
Lebih lanjut, Edi menekankan pentingnya manajemen risiko (risk management) yang ketat di setiap pelaksanaan program lapangan. Munculnya korban jiwa menjadi indikator kuat perlunya evaluasi menyeluruh pada ruang pembelajaran tersebut demi memperkuat tata kelola ke depan.
Ia berharap insiden seperti ini tidak terulang kembali. Melalui evaluasi sistem secara total dan perbaikan kualitas pelaksanaan di lapangan, target untuk melahirkan generasi pengelola koperasi yang tangguh, disiplin, dan berkompeten tinggi tetap bisa dicapai tanpa harus mengabaikan keselamatan nyawa manusia.
Editor : Bagoes Ri



















