PONOROGO - Beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disediakan Bulog ternyata kurang diminati masyarakat. Hal tersebut terjadi di Kabupaten Ponorogo. Meski harganya lebih murah dibanding beras medium lain di pasaran, kualitas beras SPHP dinilai tidak layak bersaing.
Harga beras SPHP ditetapkan Rp11.800 per kilogram, lebih rendah sekitar seribu rupiah dari beras medium yang umum dijual di pasar. Namun selisih harga itu tidak mampu menarik banyak pembeli. Sejumlah konsumen menilai kualitas beras SPHP lebih rendah, mulai dari aroma apek, warna cenderung abu-abu, hingga tekstur nasi yang keras dan tidak pulen.
Heri, pedagang beras, mengaku stok SPHP yang dijualnya bisa mengendap hingga sebulan. Padahal, beras medium lain habis terjual hanya dalam waktu sepekan.
“Saat ini peminat beras SPHP berkurang, meskipun harganya lebih murah tapi kualitasnya di bawah beras medium, jadi rata-rata masyarakat lebih memilih beras medium,” ujarnya.
Baca Juga : Stabilkan Harga, Polres Magetan dan Bulog Gelar GPM di Empat Polsek Sekaligus
Suryono, salah satu pembeli, juga merasakan hal serupa. Ia sempat mencoba beras SPHP namun kecewa dengan hasilnya, sehingga kini lebih memilih membeli beras medium meskipun harus membayar lebih mahal.
“Saya beli beras untuk dijual lagi, dan memang lebih laris beras medium meskipun harganya lebih mahal,” kata Suryono.
Pedagang berharap, pemerintah dan Bulog tidak hanya menekankan pada harga murah, tetapi juga memperhatikan mutu beras yang disalurkan. Dengan begitu, program SPHP tidak sekadar menjadi opsi beras murah, melainkan juga pilihan yang berkualitas bagi masyarakat. (Sayekti Milan/ Laili Rahmawati)
Baca Juga : Jaga Ketahanan Pangan, Gubernur Khofifah Minta Kepala Daerah Pantau Distribusi Beras
Editor : M Fakhrurrozi