Menu
Pencarian


"Dinkes Kab. Malang Gelar Lokakarya Zoonosis, Kasus Leptospirosis dan Rabies Masih Fluktuatif"

JTV Malang - Kamis, 23 Juli 2026 19:31
"Dinkes Kab. Malang Gelar Lokakarya Zoonosis, Kasus Leptospirosis dan Rabies Masih Fluktuatif"
Lokakarya Zoonosis Dinkes Malang bersama lintas sektor digelar di Puskesmas Tumpang, 23-24 Juli 2026, perkuat kesiapsiagaan hadapi penyakit hewan ke manusia.

KAB. MALANG - Portaljtv – Dinas Kesehatan Kabupaten Malang bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE) menggelar lokakarya edukasi pencegahan penyakit zoonosis pada 23–24 Juli 2026 di Puskesmas Tumpang, Kabupaten Malang. 

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai perangkat daerah dan mitra strategis guna memperkuat komunikasi risiko serta koordinasi lintas sektor menghadapi ancaman penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr. Titis Ari Respatilatsih, mengatakan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dilakukan saat kedaruratan kesehatan terjadi.

"Kesiapsiagaan menghadapi penyakit zoonosis harus dibangun jauh sebelum terjadi kedaruratan kesehatan. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada respons saat wabah terjadi, tetapi juga pada masa tenang atau saat belum ada kasus serta penguatan komunikasi risiko, surveilans, dan kolaborasi lintas sektor sejak dini," ujar dr. Titis di sela-sela lokakarya.

Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) periode 2023 hingga 22 Juli 2026, Kabupaten Malang tidak mencatat adanya kasus flu burung pada manusia maupun antraks dalam lima tahun terakhir. Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat tren kasus leptospirosis dan Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) masih berfluktuasi.

Pada tahun 2023 tercatat 3 kasus leptospirosis dan 24 kasus GHPR. Sementara hingga 22 Juli 2026, telah dilaporkan 4 kasus leptospirosis dan 127 kasus GHPR. Kondisi ini menunjukkan risiko penularan masih ada, meskipun Kabupaten Malang bukan merupakan daerah endemis rabies.

Mewakili Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, drh. Lucia Endah Sukesi, Plt. Kabid Keswan dan Kesmave, menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit zoonosis dapat dicegah dengan langkah-langkah sederhana jika masyarakat memahami cara penularannya.

"Rabies dapat ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, kucing, serta monyet. Namun, risiko penularannya dapat ditekan melalui vaksinasi hewan peliharaan secara rutin setiap tahun. Pada musim hujan, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis yang menyebar melalui air tercemar urine tikus, sehingga penggunaan alas kaki tertutup seperti sepatu boot sangat penting," jelas drh. Lucia.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak dengan unggas sakit atau mati mendadak karena berisiko menularkan flu burung. Sementara untuk antraks, ia mengimbau agar warga tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak dan segera melaporkannya ke dinas terkait.

"Daging maupun telur unggas tetap aman dikonsumsi selama dimasak hingga matang. Untuk antraks, segera laporkan ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang agar segera ditindaklanjuti," tambahnya.

Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat, dr. Basra Ahmad Amru, menyampaikan bahwa kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Malang. Menurutnya, penguatan koordinasi lintas sektor di tingkat daerah menjadi fondasi penting.

"Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap. Penguatan koordinasi lintas sektor di tingkat daerah menjadi fondasi penting agar upaya pencegahan dan penanganan wabah zoonosis dapat berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan efektif," tegas dr. Basra.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri, menekankan bahwa masyarakat membutuhkan informasi yang benar sebagai dasar untuk mengambil tindakan yang tepat.

"Masyarakat membutuhkan informasi yang benar sebagai dasar untuk mengambil tindakan yang tepat. Lokakarya ini juga membekali para promotor kesehatan dengan keterampilan komunikasi interpersonal agar mereka mampu memotivasi masyarakat menerapkan perilaku pencegahan dan memperkuat kemampuan pemerintah daerah menghadapi penyebaran hoaks terkait wabah penyakit zoonosis," pungkasnya. (Ali)

Editor : JTV Malang






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.