Siapa sangka gulir jari di layar ponsel kini bisa melahirkan judul film dan drama yang tayang di seluruh dunia. Awal Januari 2026, The Walt Disney Company resmi merampungkan kerja sama strategis dengan WEBTOON Entertainment untuk membangun platform komik digital anyar sekaligus menyuntikkan investasi ekuitas sekitar dua persen ke perusahaan tersebut, seperti diumumkan lewat siaran pers resmi WEBTOON pada (8/01/2026).
Lewat kesepakatan ini, ribuan judul klasik Disney, Marvel, Star Wars, hingga 20th Century Studios akan dihadirkan dalam format gulir vertikal khas WEBTOON, berdampingan dengan karya orisinal platform tersebut. Langkah ini melengkapi pencapaian WEBTOON yang melantai di bursa Nasdaq dengan kode WBTN pada Juni 2024, meraup dana segar 315 juta dolar Amerika Serikat dan valuasi sekitar 2,67 miliar dolar, menurut laporan Reuters dan Bloomberg.
Setiap episode webtoon direkam lengkap dengan angka pembaca, durasi baca, hingga sebaran usia dan gender penggemarnya. Data granular semacam ini menjadikan naskah digital bak "storyboard siap pakai" bagi rumah produksi, jauh lebih terukur ketimbang novel cetak konvensional. Tak heran, gelombang adaptasi webtoon ke drama Korea diperkirakan mencapai puncaknya sepanjang 2026, sementara Netflix terus memperluas daftar produksi berbasis web novel dan manhwa.
Fenomena ini berjalan beriringan dengan tren BookTok dan Bookstagram, tempat pembaca dunia maya saling merekomendasikan bacaan dan mendorong penerbit memburu hak adaptasi novel viral seperti Fourth Wing dan Verity ke bioskop maupun serial televisi. Algoritma media sosial pada akhirnya berfungsi mirip riset pasar instan bagi industri hiburan global, membaca minat penonton bahkan sebelum kamera mulai merekam.
Baca Juga : Dari Sawojajar ke Dunia: Studio Animasi di Malang Ikut Garap Anime Legendaris Jepang
Batas antara pembaca dan penonton kian menipis. Sebuah karya kini bisa lahir sebagai teks daring, tumbuh menjadi komunitas digital yang riuh, lalu berujung sebagai tontonan layar lebar, seluruhnya dipandu oleh jejak minat pengguna itu sendiri. Bagi penulis pemula, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan baru untuk menyunting naskah agar layak jual sebelum diadaptasi ke medium lain. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe



















