SURABAYA - Kota Surabaya memiliki tiga wisata Kebun Raya Mangrove, yakni Kebun Raya Mangrove Surabaya Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah. Namun, hingga kini ketiganya masih sepi pengunjung.
Hingga pertengahan 2024, rata-rata pengunjung Kebun Raya Mangrove hanya mencapai enam ribu orang per bulan. Angka ini jauh dari potensi sebenarnya mengingat Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai jutaan jiwa.
Padahal, di momen libur akhir tahun, ketiga Kebun Raya tersebut bisa menjadi destinasi wisata keluarga. Kondisi ini mendapat perhatian dari Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko.
Menurutnya sektor pariwisata Kota Surabaya, termasuk wisata mangrove belum dikelola secara profesional.
Baca Juga : Kebun Raya Mangrove Surabaya Masuk Jaringan Global WMC dan BGCI
"Saya menilai Kebun Raya Mangrove ini berjalan di tempat tanpa terobosan berarti. Pengelolaan juga dilakukan setengah hati," ujarnya.
Politisi asal Gerindra ini menyebut seharusnya Pemkot mengelola wistaa wisata mangrove dengan baik karena memiliki potensi luar biasa untuk menjadi ikon pariwisata nasional bahkan internasional.
"Sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia dengan luas 34 hektar, kawasan ini seharusnya menjadi kebanggaan Surabaya dan kontributor signifikan bagi PAD," tuturnya.

Yona menyebut salah satu penyebab sepinya pengunjung di wisata Kebun Raya Mangrove karena tidak adanya transportasi ke lokasi.
"Salah satu masalah krusial yang kerap dikeluhkan pengunjung adalah minimnya akses transportasi umum menuju kawasan wisata mangrove. Lokasi yang tersebar di Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah memaksa pengunjung untuk mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi online," terangnya.
Tidak adanya transportasi ini dibenarkan Maria, salah satu pengunjung asal Manukan.
"Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar," ungkap Maria yang datang dengan mengendarai motor matic.
Selain itu, pengunjung juga dikeluhkan tidak adanya sentra kuliner.
"Sentra kulinernya hanya tulisannya saja, tadi haus rencananya mau beli minum eh sepi. Hanya tinggal lapak dan meja kursinya saja. Next kalau kesini harus bawa bekal mas, itupun kalau kesini lagi jika seperti ini kondisinya," tuturnya.
Yona Bagus juga mendesak Pemkot Surabaya mewujudkan sentra wisata kuliner dengan konsep modern namun tetap ramah lingkungan.
"Tambahkan fasilitas interaktif seperti pusat edukasi mangrove dengan teknologi augmented reality (penggabungan elemen digital: gambar, video, model 3D dengan dunia nyata secara real-time), watersport activities, dan paket wisata terintegrasi dengan destinasi lain di Surabaya Timur," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, Pemkot Surabaya harus terus melakukan kampanye pariwisata yang agresif dengan melibatkan influencer, travel blogger, dan media online.
"Ajak influencer dengan memanfaatkan momentum event-event besar di Surabaya untuk mempromosikan wisata mangrove sebagai paket lengkap wisata alam, edukasi, dan kuliner," terangnya.
Untuk itu, Yona mengajak Pemkot Surabaya untuk berani berinovasi dan mengelola secara profesional, wisata mangrove akan terus menjadi aset yang tidur.
"Di tengah kompetisi pariwisata yang semakin ketat, Surabaya tidak bisa lagi berpuas diri dengan status quo. Momentum libur akhir tahun 2025 ini seharusnya menjadi titik balik: apakah Pemkot Surabaya serius menggarap potensi wisata mangrove, atau membiarkannya terus "berjalan di tempat"
Keputusan ada di tangan Pemerintah Kota Surabaya. Warga dan wisatawan menunggu. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















