SURABAYA - Gerakan peduli sampah plastik sungai yang diinisiasi oleh kakak beradik pendiri Sungai Watch, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, memasuki wilayah Jawa Timur, setelah bertolak dari Denpasar Bali, pada 28 Maret 2026.
Lari maraton sejauh 1,260 kilometer, menuju Monas Jakarta ini merupakan ultra-maraton pertama di Indonesia demi melawan polusi plastik. Setiap kilometer dari perjalanan ini mendukung sungai yang lebih bersih dan komunitas yang lebih kuat dalam bekerja melindungi perairan Indonesia.
Setelah diterima Bupati Banyuwangi, Hj. Ipuk Fiestiandini Azwar Anas, trio berkebangsaan Perancis yang besar di Bali ini melanjutkan aktivitas paginya dengan berlari sejauh 25 km menyusuri Kecamatan Wongsorejo, Banyuputih, Asembagus, dan Situbondo, untuk selanjutnya menuju Surabaya.
Mereka akan melanjutkan lari marathon menyusuri jalan Dandels dari Surabaya-Gresik-Tuban dan wilayah Jateng dan Jabar, dalam durasi perjalanan lari selama 57 hari.
“Lari ini membantu kami memetakan realitas limbah dan sungai di seluruh Jawa, sehingga kami tahu persis ke mana Sungai Watch harus melangkah selanjutnya,” kata Kelly Bencheghib, satu-satunya perempuan dari tiga bersaudara.
Sampah plastic merupakan problem dunia, termasuk Indonesia, sehingga menarik aktivis lingkungan ini untuk mengkampanyekan pentingnya membersihkan sungai dari sampah plastic, yang mengancam kehidupan manusia.
Bank Dunia (2021) mencatat Indonesia adalah penyumbang polusi plastik laut terbesar kedua di dunia. Lebih dari 80% plastik di lautan berasal dari sungai, menjadikan pencegatan sampah plastik di sungai sebagai salah satu strategi paling efektif untuk mencegah polusi laut. Apalagi sungai-sungai di Indonesia mengalir ke Laut Jawa dan Samudra Hindia, di mana sampah plastik dapat menyebar ke garis pantai internasional termasuk ke Australia, Afrika Timur, dan wilayah pulau Pasifik.
Ancaman sampah plastik semakin besar karena produksi plastik global diproyeksikan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060 (OECD, 2022), sehingga mempercepat polusi laut di seluruh dunia.
“Polusi plastik akhirnya mulai mendapat perhatian di Indonesia. Kami berlari untuk mengubah momentum tersebut menjadi aksi nyata, solusi, dan pendanaan guna memperluas jangkauan Sungai Watch ke seluruh Jawa," tambah Sam Bencheghib.

Dengan berlari melintasi Jawa, Sungai Watch menggabungkan pemetaan sungai secara langsung dengan perhatian nasional yang berkelanjutan, mengubah ketahanan fisik menjadi aksi nyata. Tujuannya adalah mengumpulkan $ 1 juta USD untuk mendanai ekspansi organisasi di seluruh Jawa. Setiap $ 1 yang didonasikan akan mendanai pengangkatan 1 kilogram sampah dari sungai.
“Kami tidak hanya berlari 25 km setiap hari; kami memiliki tim yang memantau titik-titik pembersihan di depan kami, melompat ke sungai, dan bekerja sama dengan masyarakat. Kami telah berhasil memulihkan tempat pembuangan sampah ilegal di Bali Barat, dan kami membawa dampak tersebut ke seluruh Jawa,’’ kata Gary Bencheghib.
Sungai Watch telah mengoperasikan sembilan fasilitas pemilahan sampah di Bali, Banyuwangi, dan satu di Sidoarjo, dengan rencana untuk melakukan eskalasi cepat ke wilayah kritis baru setelah lari ini usai. Sungai Watch juga telah memasang 400 penghalang sungai (river barriers) di seluruh Indonesia, mengangkat 4,5 juta kilogram sampah, dan menghasilkan 3 miliar penayangan di media sosial dan pers internasional.
Run for Rivers ini akan didokumentasikan dalam sebuah film layar lebar yang saat ini sedang dikembangkan bersama salah satu pendiri SeaLegacy, Paul Nicklen, BBC Wildlife Photographer of the Year sekaligus fotografer National Geographic yang karyanya telah menjangkau miliaran orang di seluruh dunia.
Di wilayah Jawa Timur, Sungai Watch sedang menjajaki kerjsama dengan pengelola televisi lokal, JTV Rek Jawa Timur dan Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur, untuk turut mengkampanyekan pentingnya mengangkat sampah plastik di sungai kepada masyarakat. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















