MAGETAN - Kreativitas tak pernah mengenal batas usia maupun tempat. Hal ini dibuktikan oleh sekelompok ibu-ibu di Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, yang berhasil mengembangkan Batik Gedhek.
Batik Gedhek lahir dari pelatihan membatik yang diadakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Magetan beberapa waktu lalu. Dari pelatihan tersebut, para ibu-ibu tak hanya belajar teknik membatik, tetapi juga mendapatkan bantuan peralatan untuk mengembangkan produk mereka secara mandiri.
Salah satu anggota kelompok, Siti Wahyuni, menjelaskan bahwa proses kreatif mereka terus berkembang hingga kini mampu menghasilkan karya batik yang unik.
“Batik kita pakai ciri khas gedhek lalu dikombinasi dengan kontemporer. Awalnya kita mendapatkan latihan dari Disperindag, terus kita diberikan alat-alat. Lalu kita manfaatkan dan coba, alhamdulillah sedikit demi sedikit ada pesanan dari instansi,” ujar Siti Wahyuni.
Kelompok yang beranggotakan lima orang aktif ini kini mampu memproduksi batik dengan sentuhan kontemporer. Untuk motif, mereka memakai ciri khas desa, seperti dari anyaman bambu atau gedhek, ciri khas rumah tradisional di pedesaan.
Harga Batik Gedhek pun terbilang terjangkau, mulai dari Rp115 ribu hingga Rp120 ribu untuk motif kontemporer, dan berkisar antara Rp135 ribu hingga Rp140 ribu untuk motif dengan tambahan canting.
Produk batik karya ibu-ibu Desa Baleasri kini telah dipasarkan ke berbagai instansi seperti Pemkab Magetan, dinas-dinas daerah, hingga desa-desa lain di sekitar Magetan. Mereka juga rutin mengikuti bazar dan pameran UMKM di berbagai daerah sebagai upaya memperluas promosi produk lokal.
Dari sebuah pelatihan sederhana, ibu-ibu Desa Baleasri membuktikan bahwa kreativitas dan kerja keras dapat menjadi sumber penghasilan baru sekaligus melestarikan budaya. Batik Gedhek tidak hanya menjadi simbol identitas desa, tetapi juga memberikan nilai ekonomi dan kebanggaan bagi masyarakat setempat. (Ramdhan Rio/Fadillah Putri)
Editor : M Fakhrurrozi



















