Di tengah gempuran konten unboxing belanjaan dan tren baju berseri yang berganti tiap pekan, sebuah gerakan tandingan yang tiba-tiba viral di ruang digital. Tren ini dikenal sebagai Underconsumption Core, sebuah fenomena di mana masyarakat modern justru memamerkan kebiasaan menggunakan barang sampai habis dan menolak perilaku konsumtif. Fenomena sosial yang ramai di platform media sosial ini memicu dinamika baru mengenai dorongan di balik gaya hidup hemat yang kini justru menjadi simbol keren dan dipamerkan secara luas.
Pada dasarnya, underconsumption core Merujuk pada praktik mengonsumsi barang secara bijak, mengutamakan fungsi di atas estetika semata, serta mengoptimalkan masa pakai produk hingga benar-benar rusak atau habis. Mengutip analisis dari media internasional seperti Bloomberg dan TechCrunch, tren ini muncul sebagai bentuk respons alami terhadap kejenuhan budaya hiperkonsumerisme (overconsumption) yang selama ini didorong oleh algoritma media sosial dan pemasaran mikromodel busana cepat (fast fashion).
Faktor pemicu utamanya melingkupi kombinasi tekanan ekonomi global dan kesadaran lingkungan yang kian tinggi di kalangan generasi muda. Lonjakan biaya hidup (cost of living krisis) membuat pembelian berlebihan terasa tidak realistis secara finansial. Di sisi lain, pembaca awam kini semakin memahami dampak buruk limbah manufaktur terhadap lingkungan. Melalui istilah psikologis underconsumption, masyarakat mengubah persepsi tentang kesederhanaan: memiliki sedikit barang tidak lagi dianggap sebagai tanda keterbatasan ekonomi, melainkan pilihan gaya hidup yang penuh kesadaran (mindfulness).
Implementasi tren ini terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memotong kemasan pembersih wajah untuk menghabiskan sisa krim terakhir, memakai satu tas yang sama selama bertahun-tahun, hingga membeli pakaian bekas (thrifting). Tindakan-tindakan kecil ini diproyeksikan tidak hanya menekan pengeluaran bulanan, tetapi juga mampu mengurangi kelelahan mental (decision kelelahan) akibat terlalu banyak pilihan barang di rumah.
Pada akhirnya, underconsumption core menjadi sebuah kritik sosial yang menyegarkan di era modern. Mengendalikan keinginan belanja bukan berarti membatasi diri dari kebahagiaan, melainkan sebuah langkah nyata untuk melepaskan diri dari jebakan konsumerisme yang tidak ada habisnya. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe



















