Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) beberapa waktu lalu menjadi rapor merah bagi dunia pendidikan. Semua energi diarahkan untuk sebuah angka, mulai dari memperbanyak latihan soal hingga menggelar kelas intensif. Namun, hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan. Berkaca dari hal tersebut, ada hal yang lebih penting untuk direfleksikan: “Bagaimana cara mengembangkan kompetensi guru agar dapat menghasilkan nilai TKA yang membanggakan?”
TKA bukan sekadar mengukur kemampuan akademik siswa. Ia juga memotret kualitas pembelajaran di ruang kelas. Ketika hasil TKA belum memuaskan, persoalannya bukan hanya pada siswa, tetapi juga pada bagaimana dukungan pembinaan untuk guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan tuntutan kompetensi.
Sayangnya, hasil TKA sering berhenti sebagai laporan statistik atau bahan untuk membandingkan sekolah. Setelah dipublikasikan, perhatian kembali tertuju pada target nilai, bukan pada perbaikan proses belajar. Padahal, nilai yang rendah tidak muncul pada hari pelaksanaan tes. Ia terbentuk dari proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari.
Di sinilah persoalan mendasarnya. TKA mengukur kemampuan bernalar, menganalisis, dan memecahkan masalah. Sementara itu, di banyak ruang kelas, pembelajaran masih berorientasi pada penyelesaian materi. Guru berpacu menuntaskan kurikulum, sedangkan siswa dituntut mampu menggunakan pengetahuannya untuk menjawab persoalan yang kontekstual. Ketika pembelajaran masih mengejar hafalan, sementara asesmen menuntut penalaran, kesenjangan itu akhirnya tampak dalam hasil TKA yang belum memuaskan.
Baca Juga : Dari Konsumen Informasi Menjadi Kreator Pengetahuan
Di sisi lain, solusi yang diberikan sering kali bersifat seragam. Ketika nilai TKA menurun, pelatihan guru kembali digelar. Guru mengikuti seminar, menerima materi, memperoleh sertifikat, lalu kembali ke kelas dengan tantangan yang sama. Yang bertambah adalah jumlah pelatihan, bukan kualitas pembelajaran.
Masalahnya bukan karena guru tidak mau berkembang. Masalah utamanya adalah sistem pengembangan kompetensi guru yang belum sepenuhnya berbasis data. Semua guru memperoleh pelatihan yang hampir sama, padahal kebutuhan setiap sekolah, bahkan setiap kelas, berbeda. Akibatnya, pelatihan sering menjadi rutinitas administratif, bukan solusi atas persoalan nyata di ruang kelas.
Sudah saatnya hasil TKA dijadikan peta jalan pembinaan guru. Setiap sekolah perlu menyusun peta kompetensi berdasarkan analisis hasil TKA. Jika siswa lemah dalam bernalar, guru memperoleh pendampingan tentang pembelajaran berbasis masalah. Jika kemampuan literasi rendah, pelatihan difokuskan pada strategi membaca kritis. Pengembangan guru tidak lagi bersifat umum, tetapi menjadi tepat sasaran karena berangkat dari kebutuhan riil.
Baca Juga : Menjadi Titik Putih di Dunia yang Terang
Selain itu, paradigma pelatihan perlu bergeser dari training menuju coaching. Guru tidak membutuhkan lebih banyak seminar, melainkan pendampingan yang berkelanjutan. Mentor mengamati pembelajaran di kelas, memberikan umpan balik, lalu mendampingi guru memperbaiki praktik mengajarnya. Cara ini jauh lebih berdampak dibandingkan pelatihan satu arah.
Pemanfaatan teknologi juga perlu diperkuat. Kecerdasan buatan dapat membantu guru menganalisis hasil TKA, memetakan kelemahan siswa, hingga merekomendasikan strategi pembelajaran yang sesuai. Dengan demikian, guru tidak lagi mengajar berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data yang akurat.
Tak kalah penting, ukuran keberhasilan guru harus bergeser. Jangan lagi hanya bertanya berapa banyak pelatihan yang diikuti, tetapi apa yang berubah di ruang kelas setelah ada pelatihan. Ketika siswa semakin mampu berpikir kritis, bernalar, dan memecahkan masalah, saat itulah pengembangan kompetensi guru benar-benar memberi dampak.
Baca Juga : Korelasi Kompetensi Guru terhadap Keberhasilan Transformasi Digital Sekolah
Jika TKA adalah termometer pendidikan, jangan sibuk mempercantik angka pada termometernya. Obatilah sumber persoalannya. Hasil TKA seharusnya tidak menjadi alat untuk menghakimi siswa atau guru, melainkan menjadi dasar membangun sistem pembinaan guru yang lebih cerdas, personal, dan berbasis data. Sebab, nilai memang dicetak oleh siswa, tetapi kualitasnya dibentuk oleh guru. Guru yang berkualitas tidak lahir dari banyaknya seminar, melainkan dari sistem yang terus membimbingnya untuk belajar. (*)
Oleh: Yuni’ah, S.Pd., SMPN 1 Porong
Editor : Iwan Iwe



















