Menu
Pencarian


Melihat Dunia Lebih Indah Bersama RS Mata Masyarakat Jawa Timur

dr. Niken Indah Noerdiyani, Sp.M. - Jumat, 10 Juli 2026 13:23
Melihat Dunia Lebih Indah Bersama RS Mata Masyarakat Jawa Timur
Ilustrasi Cinta diperiksa oleh petugas Refraksionis Optisien (RO)

Lagu "Libur Telah Tiba" yang dinyanyikan oleh Tasya Kamila terdengar di seluruh penjuru sekolah saat momen pengambilan rapor pada hari Jumat, 26 Juni lalu. Kali ini, Papa yang bertugas mengambil raporku karena Mama harus mengambil rapor Kakak. Aku duduk di samping Papa saat wali kelasku, Bu Ani, menjelaskan tentang nilai-nilaiku.

Menurut Bu Ani, nilai-nilaiku agak menurun dibandingkan dengan semester lalu. Saat ditanya alasannya, aku jujur bilang bahwa tulisan Bu Ani di papan tulis sering tidak kelihatan atau kurang besar. Oleh karena itu, aku sering harus maju ke depan kelas atau meminjam catatan milik Sinta, teman yang duduk di sebelah bangkuku.

Papa langsung menatapku dan bertanya, “Benarkah kamu tidak bisa melihat tulisan Bu Ani di papan tulis, Cinta?”

“Iya, Pa. Sebenarnya sudah lama Cinta tidak kelihatan, tetapi Cinta takut bilang ke Bu Ani,” jawabku.

Baca Juga :   Perkuat Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan di Banyuwangi, Unair Segera Bangun Gedung Baru Fakultas Kedoktean

Bu Ani kemudian menatap Papa seraya berkata, “Sebaiknya Cinta segera diperiksakan ke dokter mata anak, Pak. Memang saya perhatikan dia sering maju ke depan atau meminjam buku temannya saat pelajaran berlangsung.”

“Baik, Bu Ani. Akan segera saya periksakan agar tidak terlambat penanganannya. Apalagi, saya dan mamanya Cinta juga memakai kacamata, sehingga pasti ada faktor genetik,” ujar Papa. “Terima kasih banyak atas sarannya, Bu Ani,” lanjut Papa, lalu segera mengajakku pulang setelah berpamitan.

Keesokan harinya, aku diajak oleh Mama dan Papa untuk memeriksa mata ke RS Mata Masyarakat (RSMM) Jawa Timur. Tempatnya sangat luas dan memiliki area bermain yang seru di ruang tunggu pasien. Saat pertama kali datang, kami disapa ramah oleh petugas keamanan yang menanyakan tujuan berobat kami. Petugas tersebut dengan sigap mengarahkan kami untuk mengambil nomor antrean dan menuju ke loket pendaftaran. Setelah proses pendaftaran selesai, kami dipersilakan menunggu. Aku pun langsung berlari ceria ke taman bermain dan bertemu dengan anak-anak lain sebayaku.

Baca Juga :   Jalan Kaki 30 Menit Sehari, Olahraga Murah dengan Segudang Manfaat

Tidak lama kemudian, namaku dipanggil oleh perawat untuk masuk ke ruang asesmen awal. Di ruangan itu, perawat menanyakan riwayat kelahiranku serta riwayat penyakit lain kepada Mama dan Papa. Para perawat di sana sangat baik, ramah, dan selalu tersenyum, sehingga membuatku merasa nyaman dan tidak takut sama sekali.

Setelah itu, aku diperiksa oleh petugas Refraksionis Optisien (RO). Aku diminta menebak angka dan huruf di papan bicara dari jarak sekitar 6 meter, persis seperti posisiku saat duduk di bangku paling belakang di kelas. Petugas kemudian memasangkan kacamata uji coba dengan lensa tertentu, lalu memintaku berjalan-jalan di depan ruangan sambil membaca buku.

Wah, seketika tulisan di sekitarku menjadi sangat jelas dan terang! Aku bahkan bisa berjalan naik-turun tangga dengan sangat lancar. Saat aku membaca buku cerita, tulisan dan gambar di dalamnya terlihat begitu jelas dan besar. Aku senang sekali bisa melihat semuanya dengan sempurna. Setelah mencoba kacamata tersebut selama 10 menit, petugas RO melepasnya dan memintaku menunggu kembali di ruang tunggu untuk giliran pemeriksaan dokter.

Baca Juga :   Sering Begadang Demi Piala Dunia? Waspadai Risiko Kesehatannya

Sesaat kemudian, perawat memanggil namaku untuk masuk ke ruang praktik dokter mata anak. Awalnya aku sempat takut karena mengira mataku akan dilaser dan terasa sakit. Namun, ketakutan itu langsung hilang saat dr. Niken—nama dokter yang memeriksaku—menyapa dengan ramah dan mengajakku berjabat tangan.

Perawat lalu membantuku naik ke atas kursi pemeriksaan khusus yang bisa bergerak naik-turun. Aku diminta menempelkan dagu dan dahi pada alat pemeriksaan bernama slit-lamp. Sama sekali tidak sakit! Aku hanya diminta fokus melihat mainan bebek karet berwarna kuning yang ada di atas alat tersebut selama beberapa saat.

Setelah pemeriksaan selesai, perawat membantuku turun untuk duduk kembali mendampingi Mama dan Papa di hadapan dr. Niken. Dokter kemudian menjelaskan bahwa mataku mengalami kelainan rabun jauh (minus), silinder, serta kondisi mata malas (ambliopia). Oleh karena itu, kacamataku harus dipakai terus setiap hari. Dokter juga berpesan agar aku melakukan kontrol rutin setiap enam bulan sekali untuk memantau perkembangan kondisi mataku.

Baca Juga :   Sering Duduk Seharian? Waspadai Risikonya

Terima kasih dr. Niken dan seluruh petugas di RSMM Jawa Timur! Sekarang, aku bisa melihat dunia dengan jauh lebih indah dan jelas.

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.