Menu
Pencarian


Menjadi Titik Putih di Dunia yang Terang

Portaljtv.com - Jumat, 10 Juli 2026 12:55
Menjadi Titik Putih di Dunia yang Terang
Fitri Wulandari

Kelas Bahasa Indonesia baru saja usai. Sebagai pengajar, saya sedang berberes perlengkapan mengajar. Seorang murid tampak mendekati. Dengan suara pelan, dia bertanya.

“Bu, saya belum terlalu memahami cara menulis yang tadi diterangkan,” katanya.

Saya tersenyum. “Bagian apa yang belum kamu pahami, Nak?” jawab saya.

“Hehe, hampir semua. Bisa dijelaskan lagi?” tanyanya.

Baca Juga :   Cloud 3.0: Era Baru Komputasi Awan di Tengah Krisis Chip Global

Ilustrasi di atas tentu jamak terjadi di setiap sekolah. Hanya, tidak semua murid mampu dan mau menyampaikannya. Rasa malu, takut dianggap “lambat”, atau waktu guru yang sudah habis sering membuat pertanyaan itu tertelan. Jika Anda seorang guru, apakah yang akan Anda lakukan? Langsung menjelaskan ulang materi, meminta murid tersebut membaca dan belajar mandiri, atau memilih mengalihkan perhatian?

Keakraban dunia pendidikan dan teknologi sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Dunia digital menjadi sarana yang paling dekat dan ampuh sebagai sumber belajar. Dalam ilustrasi di atas, murid sudah memiliki kemauan untuk belajar. Bisa saja dia memilih diam dan mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri lewat YouTube atau Google. Namun, pilihannya untuk bertanya ulang adalah sesuatu yang perlu diapresiasi. Itu tanda adanya growth mindset dan kepercayaan kepada guru.

Dalam konteks ini, diperlukan guru yang mampu dan mau menjelaskan secara berulang-ulang, kapan pun dan di mana pun murid tersebut membutuhkan. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah guru bisa melakukan ini sendirian? Jawabannya sudah kita ketahui: tidak mungkin itu bisa dilakukan.

Baca Juga :   Paus Leo XIV Tekankan AI Harus Melayani Manusia dalam Ensiklik Pertamanya

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan solusi yang tepat. Yang dapat menjawab kebutuhan itu adalah teknologi sebagai mitra guru, bukan pengganti guru. Teknologi perlu dimanfaatkan lebih aplikatif untuk menjawab kebutuhan pendidikan. Berkaitan dengan ilustrasi pada pembuka di atas, murid dan guru dapat berkolaborasi untuk membuat “guru digital” dengan memanfaatkan AI dan koding untuk menyusun materi menjadi lebih menarik dan dapat diakses ulang. Murid yang tadi bertanya “hampir semua belum paham” bisa membuka proyek di ponselnya pada malam hari dan mengulang penjelasan sebanyak yang dia mau, tanpa merasa membebani guru.

Berbagai platform pemrograman visual dapat menjadi pilihan. Salah satunya adalah Scratch. Scratch memungkinkan penggunanya membuat game, animasi, dan cerita interaktif dengan menyusun blok-blok kode visual seperti bermain puzzle, tanpa perlu menulis kode teks yang rumit.

Guru dapat menyusun materi berupa figur tokoh berbungkus kekinian, misalnya avatar “Bu Guru AI” atau tokoh superhero. Kemudian, figur itu diciptakan agar dapat berjalan, berbicara dengan gelembung teks, serta mempraktikkan materi menulis teks narasi, deskripsi, atau prosedur seperti yang diinginkan guru. Dengan demikian, figur itu dapat digunakan untuk mewakili guru dalam menyampaikan materi kapan pun dan di mana pun murid membutuhkan penjelasan.

Dalam implementasi yang lebih kompleks, murid dapat diminta memanfaatkan aplikasi serupa untuk menghasilkan produk yang dapat dipresentasikan sebagai hasil pemahaman atas materi yang sudah dipahami. Tugasnya bukan lagi sekadar LKS, melainkan: “Buatlah proyek Scratch 3 menit yang mengajarkan cara menulis paragraf pembuka.” Di sinilah terjadi learning by teaching. Murid yang awalnya “hampir semua belum paham” akan terdorong membongkar ulang materinya agar bisa ia ajarkan. Proses inilah yang menguatkan pemahaman.

Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu ada prasyaratnya. Guru perlu didampingi dengan pelatihan TIK yang praktis, bukan teoritis. Sekolah perlu memastikan akses perangkat dan internet yang memadai. Yang paling penting, budaya kelas harus merayakan pertanyaan, bukan mengejeknya. Teknologi hanya akan bekerja jika etos “bertanya itu keren” hidup di ruang kelas.

Tujuan agar tidak ada lagi murid yang pulang dengan status “hampir semua belum paham” dapat menemukan jalan keluarnya. Dengan memadukan empati guru, logika koding, dan AI, kita bisa menciptakan “guru pendamping” yang hadir 24 jam. Bukan untuk menggantikan senyum guru di kelas, tetapi untuk memastikan senyum murid hadir saat ia membuka gawai di rumah dan berkata, “Oh, sekarang saya paham.” (*)

Oleh: Fitri Wulandari, SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.