NGAWI - Di tengah gempuran kuliner modern, Kabupaten Ngawi tetap setia menjaga sajian tradisional yang tak lekang oleh waktu: Tepo Kecap. Kuliner khas ini telah hadir sejak puluhan tahun silam dan hingga kini tetap menjadi primadona masyarakat, baik sebagai menu sarapan maupun santapan malam.
Sekilas, tepo kecap sering dianggap mirip dengan kupat tahu. Namun, hidangan ini memiliki identitas tersendiri, mulai dari bentuk "tepo" yang unik hingga kuah rempah yang membedakannya dari sajian serupa.
Keunikan Tepo Berbentuk Prisma
Tepo merupakan sejenis lontong yang terbuat dari beras dan dibungkus daun pisang. Berbeda dengan lontong pada umumnya yang berbentuk silinder, tepo dibentuk menyerupai prisma atau limas segi empat.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan ekstra. Beras yang telah dicuci bersih dibentuk prisma, lalu direbus selama empat hingga lima jam menggunakan tungku kayu bakar. Waktu memasak yang lama ini menghasilkan tekstur yang lebih lembut namun tetap padat saat dipotong.
Rahasia Lezat Kuah Cam-caman
Daya tarik utama tepo kecap terletak pada kuah khas yang disebut cam-caman. Kuah ini dibuat dari rebusan lengkuas, serai, daun salam, dan gula merah yang dimasak hingga sari rempahnya keluar sempurna. Aroma rempah yang lembut berpadu dengan rasa gurih-manis inilah yang menjadi pembeda utama tepo kecap dibandingkan hidangan berbahan lontong lainnya.
Dalam satu porsi, potongan tepo ditata bersama tahu dan tempe goreng, tauge, irisan kubis, serta seledri. Setelah seluruh isian tersusun, hidangan disiram kuah cam-caman, diberi sambal kacang, sambal bawang, lalu dikucuri kecap manis. Sebagai sentuhan akhir, taburan bawang goreng dan kacang tanah atau kedelai goreng melengkapi sajian ini.
Harga Merakyat, Cita Rasa Identitas
Dibandingkan hidangan sejenis, tepo kecap lebih menonjolkan kuah kecap yang cenderung cair dengan sentuhan rempah. Perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit pedas menjadikannya terasa ringan namun tetap mengenyangkan.
Tepo kecap sangat mudah ditemukan di warung tenda maupun pasar tradisional di wilayah Ngawi, Magetan, hingga Madiun. Dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp5.000 per porsi, sajian ini tetap menjadi makanan rakyat yang dinikmati berbagai kalangan.
Lebih dari sekadar makanan, tepo kecap adalah identitas kuliner Ngawi. Di tengah perubahan zaman, cita rasa sederhana ini terus bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















