Pemerintah dan pelaku usaha terus mendorong optimalisasi transportasi laut guna memperkuat sistem logistik di Jawa Timur. Langkah ini dinilai penting di tengah kenaikan harga BBM akibat situasi geopolitik global serta meningkatnya kebutuhan distribusi barang ke wilayah Indonesia Timur.
Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Jawa Timur, Luhur Pribadi, mengatakan transportasi laut memegang peranan vital dalam distribusi logistik nasional. Menurutnya, sekitar 90 persen distribusi logistik Indonesia masih mengandalkan jalur laut karena dinilai lebih efisien dibanding moda transportasi lain.
“Optimalisasi angkutan laut sangat memegang peranan penting, terutama untuk melayani daerah terpencil dan kepulauan di Jawa Timur,” ujar Luhur Pribadi dalam program Dialog Khusus JTV, Senin (11/05/26),
Pemerintah juga terus memperkuat program tol laut dan angkutan perintis untuk menekan disparitas harga di wilayah kepulauan. Selain armada kapal, pembenahan pelabuhan juga dilakukan agar waktu tunggu kapal dapat dipangkas sehingga distribusi logistik menjadi lebih efektif dan efisien.
Sementara itu, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya, Muhamad Rifdi, menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga konektivitas logistik, termasuk ke wilayah terpencil di Jawa Timur seperti Bawean dan Kepulauan Madura.
“ASDP terus berupaya memberikan pelayanan terbaik agar distribusi logistik dan kebutuhan pokok masyarakat tidak terputus,” kata Muhammad Rifdi.
ASDP juga mulai memperkuat digitalisasi layanan, mulai dari sistem tiket hingga pemantauan operasional kapal. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan kapal sehingga proses distribusi barang lebih terukur.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Bidang Usaha Logistik Kadin Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menyebut penggunaan kapal Roro untuk distribusi logistik mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, efisiensi biaya dan dukungan infrastruktur pelabuhan menjadi faktor penting dalam pengembangan logistik laut di Jawa Timur.
“Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan membuat angkutan laut menjadi pilihan utama distribusi logistik,” ujar Sebastian Wibisono.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengimplementasikan pemanfaatan zona labuh di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak untuk mempercepat antrean kapal domestik. Langkah ini diharapkan mampu memangkas waktu tunggu kapal dari sebelumnya enam hingga delapan jam menjadi sekitar satu sampai dua jam sebelum sandar di dermaga. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe



















