BLITAR - Kelangkaan LPG yang dikeluhkan masyarakat mendorong munculnya inovasi alternatif. Seorang pemuda di Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, menciptakan kompor berbahan bakar oli dan minyak goreng bekas sebagai solusi kebutuhan dapur.
Pemuda bernama Andy itu mengaku ide tersebut muncul setelah ia kesulitan mendapatkan gas elpiji. Dari situ, ia mulai memikirkan cara menghadirkan bahan bakar rumah tangga yang lebih mudah didapat dan efisien.
Berbekal keterampilan pengelasan, Andy merancang kompor berbahan limbah rumah tangga. Meski sempat mengalami kegagalan dalam proses pembuatan, ia akhirnya berhasil menciptakan kompor yang kini mulai diminati warga.
“Awalnya coba-coba karena LPG susah. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ketemu formulanya,” ujarnya.
Baca Juga : Warga Ngawi Keluhkan Sulitnya Mendapat LPG 3 Kg, Harga Tembus Rp25 Ribu
Keunggulan kompor ini terletak pada performanya. Meski menggunakan oli bekas, api yang dihasilkan berwarna biru dan stabil, layaknya kompor gas pada umumnya. Bahkan, satu liter bahan bakar mampu digunakan hingga tujuh jam tanpa henti.
Selain itu, harga kompor ini relatif terjangkau. Andy mematok harga mulai Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per unit, tergantung ukuran dan spesifikasi.
Tak hanya menjadi solusi atas kelangkaan LPG, inovasi ini juga dinilai ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah seperti oli dan minyak goreng bekas membantu mengurangi pencemaran yang selama ini menjadi masalah tersendiri.
Baca Juga : Pertamina Pastikan Stok LPG 3 Kg di Ngawi Aman Jelang Lebaran
Andy berharap, karyanya bisa membantu masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, agar tetap bisa memasak tanpa bergantung penuh pada LPG.
“Selama masih dibutuhkan, saya akan terus produksi,” pungkasnya. (Qithfirul Aziz)
Editor : JTV Kediri


















