Menu
Pencarian

80 Persen Lulusan Binus Malang Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

Selvy Wang - Kamis, 30 April 2026 16:15
80 Persen Lulusan Binus Malang Sudah Bekerja Sebelum Wisuda
Direktur Kampus Binus Malang, Robertus Tang Herman. (Foto: Selvi Wang)

SURABAYA - Perkembangan teknologi dan dinamika dunia kerja yang terus berubah, masyarakat dihadapkan pada keputusan memilih pendidikan tinggi menjadi keputusan yang semakin kompleks. Khususnya pada orang tua dan calon mahasiswa yang dihadapkan pada beragam pilihan kampus, ketidakpastian arah karier, hingga tuntutan relevansi di era digital.

Keputusan memilih perguruan tinggi pun tak lagi sekadar soal melanjutkan pendidikan, melainkan menjadi investasi jangka panjang. Kekhawatiran akan salah langkah semakin menguat, seiring fenomena career mismatch di mana sekitar 35–36 persen lulusan bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Di sisi lain, proyeksi global menunjukkan sekitar 22 persen pekerjaan akan mengalami perubahan pada 2030, menegaskan bahwa masa depan karier kian dinamis dan sulit diprediksi.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Kampus Binus Malang, Robertus Tang Herman menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memastikan lulusannya tetap relevan dan adaptif.

“Pemilihan kampus bukan sekadar mendapatkan gelar, tetapi investasi masa depan. Kami memastikan pendidikan yang diberikan selaras dengan kebutuhan industri sekaligus membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, Binus Malang merancang kurikulum berorientasi masa depan dengan melibatkan industri secara aktif. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah terintegrasi dalam proses pembelajaran. Selain itu, mahasiswa juga dibekali kemampuan penting seperti literasi digital, critical thinking, problem solving, dan adaptabilitas.

Tak hanya itu, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung melalui program unggulan enrichment, yang memungkinkan mereka terjun ke dunia industri sebelum lulus. Pendekatan ini membuat mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mulai membangun karier sejak dini.

“Sekitar 80 persen mahasiswa kami sudah bekerja atau berwirausaha sebelum wisuda. Dalam enam bulan setelah lulus, hampir seluruhnya terserap di dunia kerja,” jelasnya.

Selain fokus pada kesiapan akademik dan karier, Robert memastikan pihaknya juga menaruh perhatian serius pada kesehatan mental mahasiswa. Hal ini dinilai penting di tengah tekanan era digital yang sarat informasi.

Digital Psychology Program Binus Malang, Natahsa Gandhi, Psikolog, menjelaskan bahwa generasi saat ini menghadapi tantangan psikologis yang tidak ringan.

“Informasi sangat mudah diakses, tetapi justru membuat banyak anak muda cemas terhadap masa depan mereka. Ini menjadi dilema generasi saat ini,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pihaknya juga menghadirkan Student Advisory and Support, unit khusus yang memberikan pendampingan akademik dan psikologis secara personal. Layanan ini mencakup mentoring, konseling, hingga program wellbeing.

“Kami tidak menghilangkan stres, tetapi membantu mahasiswa mengelolanya secara adaptif. Kampus harus menjadi tempat yang aman dan suportif, bukan sekadar tempat belajar,” jelasnya.

Pendampingan ini juga tetap berjalan saat mahasiswa mengikuti program enrichment di luar kampus, termasuk di luar kota, dengan monitoring berkelanjutan bersama mitra industri. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.