Menu
Pencarian


Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Kekerasan Domestik di Inggris Melonjak Usai Timnas Kalah

Portaljtv.com - Senin, 20 Juli 2026 12:07
Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Kekerasan Domestik di Inggris Melonjak Usai Timnas Kalah
Kekerasan dalam rumah tangga. (Freepik)

Euforia gelaran Piala Dunia 2026 ternyata tidak selalu membawa kebahagiaan bagi semua kalangan. Sorak-sorai pesta sepak bola dunia ini justru menjadi mimpi buruk bagi sebagian perempuan di Inggris seiring melonjaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) setelah Tim Nasional Inggris tersingkir di babak semifinal saat melawan Argentina.

Studi dari Lancaster University mengungkapkan bahwa kasus KDRT di Inggris melonjak hingga 38 persen saat timnas mereka mengalami kekalahan. Ironisnya, ketika Timnas Inggris menang sekalipun, angka kekerasan domestik tetap mengalami peningkatan sebesar 26 persen.

Data ini menunjukkan realitas pahit bahwa terlepas dari hasil menang atau kalah di lapangan, para perempuan di sana tetap berada di bawah ancaman kekerasan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Pada gelaran UEFA Euro 2024 lalu, insiden serupa dilaporkan ke pihak berwenang dengan lebih dari 300 kasus kekerasan domestik. Pada periode tersebut, jumlah panggilan darurat ke layanan bantuan korban KDRT meningkat secara signifikan.

Baca Juga :   Mayat Perempuan di Sumur Kraksaan Diduga Warga Bantaran Probolinggo

Melansir dari The Business Standard, lembaga perlindungan korban KDRT, Solace, menegaskan bahwa emosi yang meluap-luap serta pengaruh alkohol bukanlah penyebab utama terjadinya kekerasan, melainkan perilaku dan karakter dari pelaku itu sendiri.

Namun, turnamen olahraga berskala besar diakui menciptakan kondisi berisiko tinggi (high-risk conditions) yang memperparah situasi. Kombinasi antara tekanan emosional, konsumsi alkohol berlebihan, kurang tidur, serta norma lingkungan yang kerap memaklumi sikap agresif pria menjadi pemantik maraknya aksi KDRT.

Menindaklanjuti fenomena ini, lembaga penuntutan hukum The Crown Prosecution Service (CPS) meningkatkan dukungan hukum serta perlindungan bagi para perempuan korban KDRT. Di saat yang sama, kampanye di media sosial gencar disuarakan oleh masyarakat guna meningkatkan kesadaran publik, khususnya menyasar kelompok pria.

Selama ini, perempuan kerap dicap sebagai sosok yang mengedepankan emosi. Namun, fenomena kekerasan berbasis sepak bola ini menunjukkan bahwa pria juga sangat rentan lepas kendali saat dihadapkan pada kekecewaan hasil pertandingan.

Realitas ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat global: apakah perilaku agresif dan destruktif akibat luapan emosi saat tim favorit kalah akan terus dimaklumi, ataukah sudah saatnya ada tindakan tegas untuk melindungi para korban dari bahaya kekerasan domestik? (Dia Vionita)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.