Menu
Pencarian


Serunya Balap Perahu Fiber Ala Nelayan Probolinggo, Adu Cepat di Laut Jadi Ajang Silaturahmi

Farid Fahlevi - Minggu, 12 Juli 2026 16:30
Serunya Balap Perahu Fiber Ala Nelayan Probolinggo, Adu Cepat di Laut Jadi Ajang Silaturahmi
Adu cepat balap perahu fiber ala nelayan Desa Banjarsawah, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Farid Fahlevi)

PROBOLINGGO - Deru mesin perahu memecah keheningan pagi di Dermaga Pantai Darmo, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Puluhan perahu fiber yang sehari-hari digunakan para nelayan untuk mencari ikan, kali ini justru dipacu sekencang mungkin dalam ajang balap perahu fiber yang menjadi bagian dari tradisi Petik Laut.

Selama dua hari, Sabtu (11/7/2026) dan Minggu (12/7/2026), puluhan nelayan dari berbagai dusun berkumpul bukan untuk melaut, melainkan menjalin silaturahmi melalui perlombaan yang penuh adrenalin. Balapan ini pun menjadi tontonan menarik yang menyedot perhatian ratusan warga.

Sebelum perlombaan dimulai, para peserta tampak sibuk mempersiapkan perahu andalannya. Mesin berkekuatan 6,5 tenaga kuda diperiksa secara teliti, baut dikencangkan, kemudi dipastikan berfungsi normal, hingga mencoba lintasan agar perahu tetap stabil saat membelah ombak.

Perlombaan dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas A untuk perahu dengan panjang di atas 6,5 meter dan kelas B untuk ukuran di bawah 6,5 meter. Masing-masing peserta harus menyelesaikan lintasan sepanjang dua kilometer dengan tiga putaran.

Begitu bendera start dikibarkan, lima perahu langsung melesat membelah gelombang. Suara mesin berpadu dengan sorak-sorai penonton yang memenuhi bibir pantai.

Keahlian para nelayan yang sehari-hari mengarungi Laut Jawa terlihat jelas. Mereka saling salip, bermanuver di tikungan, hingga memacu perahu dengan kecepatan tinggi demi menjadi yang tercepat mencapai garis finis.

Namun balapan tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kali terjadi senggolan antarpeserta saat berebut posisi di tikungan. Bahkan ada mesin perahu yang mendadak mati sehingga peserta harus berusaha keras mengejar ketertinggalan.

Meski berlangsung sengit, suasana tetap penuh keakraban. Tawa dan canda kembali terdengar setelah para peserta menyelesaikan perlombaan.

Ratusan warga yang memadati Pantai Darmo pun larut dalam kemeriahan. Banyak di antaranya rela berdiri di tepian pantai hingga basah terkena cipratan air laut demi menyaksikan balapan dari jarak dekat.

Salah seorang penonton, Ririn Ifani, mengaku selalu menunggu lomba tersebut setiap tahun karena menjadi hiburan yang berbeda.

"Seru sekali melihat perahu-perahu nelayan balapan. Biasanya dipakai mencari ikan, sekarang dipakai lomba. Kami sengaja datang bersama keluarga karena acaranya ramai dan menghibur," ujar Ririn.

Menurutnya, balapan semakin menarik ketika para peserta saling menyalip di tikungan maupun saat memacu perahu menuju garis akhir.

"Deg-degan juga saat mereka saling salip. Tapi yang paling menyenangkan suasananya ramai dan warga bisa menikmati hiburan gratis," tambahnya.

Ketua Panitia, Muhammad Saturi, mengatakan balap perahu fiber bukan sekadar perlombaan mencari pemenang, melainkan menjadi bagian dari rangkaian tradisi Petik Laut yang bertujuan mempererat persaudaraan antar nelayan.

"Ajang ini kami gelar setiap tahun sebagai sarana silaturahmi. Para nelayan yang biasanya sibuk melaut bisa berkumpul, saling bertemu, sekaligus menjaga kekompakan," kata Saturi.

Ia menjelaskan seluruh perahu yang digunakan merupakan perahu operasional nelayan yang setiap hari dipakai untuk mencari ikan di perairan utara Probolinggo.

"Tidak ada perahu khusus balap. Semua menggunakan perahu yang biasa dipakai bekerja. Karena itu kemampuan mengendalikan perahu menjadi penentu kemenangan," ujarnya.

Menurutnya, antusiasme masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga panitia berharap pemerintah daerah ikut memberikan dukungan.

"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda wisata bahari tahunan Kabupaten Probolinggo. Potensinya besar karena mampu menarik banyak pengunjung sekaligus melestarikan tradisi nelayan," ungkap Muhammad Saturi.

Bagi masyarakat pesisir Probolinggo, balap perahu fiber bukan sekadar adu kecepatan di atas ombak. Perlombaan ini menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, dan semangat persaudaraan para nelayan yang setiap hari menggantungkan hidup dari laut. Di balik deru mesin dan percikan ombak, tersimpan tradisi yang terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.