Menu
Pencarian

Sederhana dan Penuh Makna, Potret Perayaan Imlek Keluarga Tionghoa di Pacitan

JTV Pacitan - Selasa, 17 Februari 2026 00:36
Sederhana dan Penuh Makna, Potret Perayaan Imlek Keluarga Tionghoa di Pacitan
Keluarga Tionghoa di Pacitan merayakan Imlek secara sederhana. (Foto:Edwin Adji)

PACITAN - Perayaan Tahun Baru Imlek tak selalu identik dengan pesta meriah dan gemerlap kembang api. Di Kabupaten Pacitan, sebuah keluarga Tionghoa merayakan Imlek dengan cara sederhana, namun tetap sarat makna dan nilai spiritual.

Aroma dupa yang khas langsung menyambut setiap tamu yang memasuki sebuah restoran di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Pacitan. Lampion merah bergantung di langit-langit ruangan, berpadu dengan ornamen bernuansa Tionghoa yang menambah kehangatan suasana. Di sudut ruangan, altar sembahyang tertata rapi dengan lilin dan dupa yang menyala.

Di tempat itulah, Chrismilia Natalia bersama keluarganya merayakan Tahun Baru Imlek dengan penuh khidmat. Tak ada pesta besar atau hiburan meriah. Perayaan dilakukan secara sederhana, diisi doa dan ungkapan syukur.

Bagi warga keturunan Tionghoa, Imlek bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender lunar. Lebih dari itu, Imlek merupakan tradisi turun-temurun yang mengandung doa, harapan, dan refleksi diri untuk menjalani tahun yang baru.

Baca Juga :   Sederhana dan Penuh Makna, Potret Perayaan Imlek Keluarga Tionghoa di Pacitan

"Imlek itu kan tradisi, Meskipun dengan keterbatasan atau apa adanya kita tetap menjaga tradisi, "ujar Chrismilia Natalia, Senin (16/2) malam.

Chrismilia Natalia yang juga pengelola hotel dan restoran di Pacitan ini mengaku memilih merayakan Imlek bersama keluarga inti agar suasana terasa lebih hangat dan intim.

“Bagi kami, Imlek itu bukan soal kemeriahan. Yang terpenting adalah berkumpul bersama keluarga, bersyukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun lalu, dan memohon berkat untuk tahun yang baru,” imbuhnya.

Baca Juga :   Belasa Ribu Kuota PBI Menganggur, DPRD Pacitan Desak Evaluasi Operator Data Desa

Sebagai umat Katolik, keluarganya tetap menjaga tradisi leluhur dengan menggelar ritual sembahyang. Dupa dinyalakan, doa dipanjatkan dalam hening, sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan.

“Walaupun kami Katolik, tradisi tetap kami jaga. Ini bagian dari warisan budaya. Kami berdoa agar di tahun ini diberi kesehatan, dijauhkan dari kesulitan, dan usaha bisa berjalan lebih baik,” katanya.

Di tengah kesederhanaan itu, perayaan Imlek di Pacitan menjadi potret indah toleransi dan harmoni antarumat beragama. Tradisi tidak selalu berbicara tentang pesta besar, melainkan tentang nilai yang dijaga, doa yang tak pernah putus, serta harapan yang terus menyala dari tahun ke tahun. (Edwin Adji)

Baca Juga :   Pedasnya Harga Cabai di Pacitan Jelang Ramadhan, Tembus Rp82 Ribu Perkilogram

Editor : JTV Pacitan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.