Menu
Pencarian

Reyogland HipHop: Rumah Kolaborasi dan Nafas Kolektif Musisi di Jantung Ponorogo

Iwan Iwe - Selasa, 10 Februari 2026 13:52
Reyogland HipHop: Rumah Kolaborasi dan Nafas Kolektif Musisi di Jantung Ponorogo
Reyogland HipHop, Rumah Kolaborasi dan Nafas Kolektif Musisi di Jantung Ponorogo

Bau khas cat sablon menyeruak di sebuah bangunan di daerah Kerun Ayu, Sumoroto, Ponorogo. Di bawah naungan Kalimili Workshop, dua orang pekerja tampak sibuk menggeser rakel di atas bentangan kain, memastikan tiap detail gambar tercetak sempurna. Di sudut lain, sang pemilik workshop, DJ Muhaeim, mengamati ritme kerja itu dengan tenang.

Bagi orang awam, ia mungkin tampak seperti pengusaha sablon lokal biasa. Namun, bagi skena musik urban di Jawa Timur, pria ini adalah salah satu pemegang kunci gerbang hip-hop di tanah Reog.

"Logika tanpa logistik itu nonsense," ujar Muhaeim sambil terkekeh. Kalimat itu menjadi prinsip hidup yang ia pegang teguh. Baginya, idealisme musik harus berjalan beriringan dengan realitas hidup. Dan di Kerun Ayu inilah, dapur ekonomi dan dapur kreativitasnya bersatu.

Dari Walahmboeh ke Click P

Perjalanan rima Muhaeim tidak tumbuh dari ruang hampa. Jauh sebelum bendera Reyogland HipHop berkibar, benihnya sudah tertanam sejak masa SMA di pertengahan 90-an. Kala itu, Muhaeim bersama adik kandungnya, Wisnu, dan beberapa teman kelasnya nekat membentuk Walahmboeh. Di tengah gempuran tren band metal dan slow rock yang merajai panggung tujuhbelasan di Ponorogo, mereka tampil beda dengan warna rap.

"Waktu itu orang-orang kaget. Bukan soal bagus atau tidak, tapi karena hip-hop itu barang baru di telinga mereka," kenangnya.

Darah seni memang mengalir kuat di antara kakak-beradik ini. Wisnu awalnya berangkat dari dunia breakdance, sementara Muhaeim jatuh cinta pada piringan hitam dan rima setelah mengonsumsi tayangan MTV Jams dan album-album Pesta Rap. Duet kakak-adik ini kemudian berevolusi menjadi Click P, sebuah unit yang lebih serius memproduksi lagu sendiri hingga merilisnya dalam bentuk kaset fisik.

Membangun "Rumah" Kolektif

Seiring berjalannya waktu, Muhaeim dan Wisnu menyadari bahwa untuk bertahan di daerah, mereka tidak bisa bergerak sendirian. Mereka butuh sebuah ekosistem. Akhirnya, terbentuklah Reyogland HipHop—sebuah wadah yang ia sebut sebagai "kolektif", bukan manajemen.

"Kita sebut ini rumah bareng. Ada sekitar 50-an orang, mulai dari rapper, DJ, graffiti artist, sampai B-Boy," jelas Muhaeim. Di bawah payung ini, mereka bebas bergerak. Jika ada kru breakdance yang mendapat pekerjaan dari korporat, mereka bisa mengajak rapper dari lingkaran yang sama. Begitu pula sebaliknya. Saling menghidupi, tanpa harus ada sekat bos dan anak buah.

Salah satu inovasi paling mutakhir yang lahir dari rahim kolektif ini adalah Kajawi. Proyek kolaborasi bersama seniman Seni Rupa Andry Deblenk ini menjadi jawaban cerdas atas tantangan budaya. Kajawi membungkus lirik-lirik pewayangan dan filosofi Jawa dengan musik hip-hop modern. Tokoh wayang tidak lagi hanya duduk diam di kelir, tapi "berbicara" melalui rima tajam para rapper Reyogland HipHop. Inilah cara mereka membumikan hip-hop agar tidak lagi dianggap "musik Barat" oleh masyarakat Ponorogo.

Menolak Tumbang di Daerah

Saat ditanya apakah ia memiliki ambisi untuk hijrah ke Jakarta demi karier yang lebih besar, Muhaeim menggeleng pelan. Baginya, era sekarang telah meruntuhkan tembok pembatas geografis.

"Saya rasa Jakarta bukan lagi jaminan. Lihat teman-teman Indonesia Timur, mereka bisa boom dari tanah mereka sendiri karena konsisten di media sosial," ungkapnya. Ia memilih tetap di Ponorogo, menjaga regenerasi melalui acara rutin Hip-Hop Movement agar anak-anak muda Gen Z di Ponorogo punya tempat untuk pamer karya.

Bagi Muhaeim, melihat pemuda lokal berani menulis lirik tentang kuliner Ponorogo atau kritik sosial dengan bahasa Jawa adalah sebuah pencapaian batin. Ia tidak sakit hati jika pemerintah daerah belum sepenuhnya melirik musik mereka sebagai theme song resmi, karena baginya, pengakuan paling jujur datang dari akar rumput.

Sore makin larut di Kerun Ayu. Deru rakel di Kalimili Workshop mungkin akan berhenti saat matahari terbenam, namun di kepala DJ Muhaeim, ketukan beat dan rima-rima baru terus mengalir. Dari sebuah bengkel sablon di sudut Ponorogo, ia membuktikan bahwa hip-hop bukan sekadar gaya hidup, melainkan nafas panjang perjuangan yang tidak akan pernah kehilangan iramanya. (*)

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.