“Ayo, rek. Ndang ngidung.”
“Rujak degan ya mas, rujake wanita legan.
Aja sungkan aja sungkan, gotong royong gandeng tangan.”
Selamat pagi. Hari ini, aku membaca buku Ludruk Jawa Timur dalam Pusaran Zaman karya Henri Supriyanto. Buku ini membahas tentang ludruk dari lahir hingga perkembangannya. Ludruk lerok hingga ludruk pascareformasi. Ngidung lerok hingga ngidung ludruk.
Baca Juga : Cuaca Seluruh Jawa Timur Cerah Berawan, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Suhu Panas dan Angin Kencang
Ayo, rek. Ngidung.
Ini, aku akan membahas tentang kidungan.
Kidungan atau “ngidung” lebih dikenal pada seni pertunjukan ludruk Jawa Timur. Kidungan merupakan seni melantunkan parikan dengan cara ditembangkan. Kidungan ini dijadikan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Kidungan ini biasanya menggunakan gending jula-juli.
Baca Juga : Cuaca Cerah Berawan Dominasi Jawa Timur, BMKG Sebut Hujan Lokal Berpeluang Terjadi di Beberapa Wilayah
Supriyanto membagi kidungan menjadi empat, yaitu kidungan tari ngrema, kidungan lawak, kidungan bedayan, dan kidungan adegan. Kidungan tari Rema dipakai sebagai kidungan pembuka pertunjukan ludruk. Kidungan ini dinyanyikan setelah tokoh penari menarikan tari Rema sebagai tari pembuka pertunjukan ludruk. Kidungan tari Rema bersifat resmi, tegas, tidak terlalu beragam (cengkok atau variasi irama). Contoh kidungannya adalah sebagai berikut.
Pambagya wilujeng katur dumateng pamiarsa.
Samia mirsani pagelaran kita.
Baca Juga : Awal Pekan, Jawa Timur Cerah Berawan Sepanjang Hari Disertai Potensi Angin Kencang
Seni jawi tari rema pinaringan asma.
Sampun dados tata lan cara.
Bilih lepat nyuwun gunging lak pangaksana.
Baca Juga : DPRD Sebut Anggaran Pendidikan Jatim Rp9,4 Triliun Belum Atasi Ketimpangan
Langkung prayogi amaringana.
Kritik saha ingkan sekeca.
Kedua, kidungan lawak. Kidungan lawak yang bermutu adalah lawak yang berkemampuan menyajikan daya tarik kritik sosial yang tajam, tetapi masih berada dalam norma-norma budaya Jawa. Parikan lawak juga berisi pesan-pesan tertentu. Misalnya:
Tuku wesi nyang pasar loak,
Mulih awan lak lewat Dhupak.
Wong saiki nggak perduli wis anak-anak,
Nek nggodha prawan sampek ditabrak becak.
Ketiga, kidungan bedayan. Kidungan bedayan adalah penampilan sejumlah tandak yang menari dan menyanyi di atas panggung. Tandak ini selain cantik, ia juga harus memiliki suara yang merdu.
Keempat, kidungan adegan. Kidungan yang isinya lagu-lagu jula-juli yang isi parikannya dikaitkan dengan tujuan untuk membentuk suasana. Misalnya, adegan sedih, gembira, atau adegan percintaan dua tokoh di atas panggung. Misalnya:
Pring kuning mangling nang kali,
Sapa wonge nggak kudu ngethok.
Lencir kuning merak ati,
Sapa wonge nggak kudu melok.
Kidungan atau “ngidung” merupakan seni pertunjukan yang memakai parikan atau pantun. Seni pertunjukan yang memakai kidungan adalah lerok, besutan, ludruk, kentrung, dan wayang topeng malangan. Kidungan ini membawa pesan-pesan tertentu kepada penontonnya. Misalnya, pesan tentang pendidikan, perjuangan, media kritik sosial, dan media pembangunan.
Oleh: Balok Safarudin
Editor : Iwan Iwe

















