Innalilahiwainailahirojiun. Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik dan pertelevisian lokal Banyuwangi. Produser senior sekaligus mantan pimpinan JTV Banyuwangi, Agusta meninggal dunia pada Selasa pagi (11 Mei 2026) dirumah sakit Blambangan Banyuwangi.
Kepergian sosok yang akrab disapa Agusta itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, hingga kalangan budayawan Banyuwangi. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi sederhana, pekerja keras, dan selalu mengayomi para junior di lingkungan kerja.

Meninggalnya Agusta mengejutkan banyak pihak. Sebab, beberapa hari sebelumnya ia masih aktif menjalankan tugas peliputan dan produksi siaran langsung bersama tim JTV Banyuwangi.
Agusta meninggalkan seorang istri bernama Kanti Rahayu serta dua anak, Gibran dan Rara. Anak perempuannya diketahui bekerja sebagai pengajar tari di Brindo International School milik Yassin Soepardi.
Ucapan belasungkawa juga mengalir dari rekan-rekan di Dewan Kesenian Blambangan. Ketua DKB Hasan Basri menyebut Agusta sebagai sosok low profile yang sangat dihormati.

Direktur JTV Banyuwangi Mema Saskia mengungkapkan, Almarhum Dikenal tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas sebagai produser dilapangan. Bahkan rekan kerjanya sering menyebut almarhum memiliki daya juang tinggi dan semangat untuk menampilkan yang terbaik dalam setiap liputan.
Agusta dipandang sebagai sosok yang bertanggung jawab, baik di mata keluarga maupun rekan kerja, serta menjadi panutan. Dikenal sebagai orang baik, sopan, supel, dan mudah bergaul dengan siapa saja di lapangan maupun di kantor. Bahkan seringkali digambarkan sebagai orang yang memberikan energi positif kepada rekan-rekan kerjanya. 'Ujar Mema'
Agusta merupakan salah satu figur penting di balik perjalanan JTV Banyuwangi sejak awal berdiri pada 2008. Saat itu, lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut dipercaya memimpin biro dan terus mengabdi hingga memasuki masa pensiun pada 2022.
Meski telah purnatugas, dedikasinya terhadap dunia penyiaran tidak berhenti. Ia tetap aktif sebagai executive producer JTV Banyuwangi hingga akhir hayatnya.

Karier Agusta di dunia televisi dimulai dari TPI di Jakarta sebelum kemudian bergabung dengan JTV Surabaya. Pada 2008, ia ikut merintis dan membesarkan JTV Banyuwangi.
Tak hanya dikenal di dunia jurnalistik, Agusta juga aktif di bidang seni dan budaya Banyuwangi. Ia tercatat sebagai bagian dari Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan.
Salah satunya menjadi juri dalam ajang Liga Puisi 2025 yang digelar Radar Banyuwangi. Pengetahuannya tentang seni membuat dirinya dihormati banyak kalangan.
Kehilanganmu meninggalkan kesedihan mendalam, tetapi kenangan indah bersamamu akan selalu hidup dalam ingatan kami.
Selamat jalan pak Agusta, Semoga bapak meninggal dala keadaan husnul khotimah. Amin
Handoko Khusumo
Editor : JTV Banyuwangi



















