MALANG - Perkembangan industri keuangan di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang tercatat stabil, tanpa adanya lonjakan atau penurunan signifikan sepanjang tahun 2025.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, menegaskan kondisi tersebut mencerminkan ketahanan sektor perbankan di tengah dinamika ekonomi nasional.

Baca Juga : OJK Malang Gelar Seminar Ajak Mahasiswa Tidak Terjebak Investasi Bodong
Menurut Farid saat ini Kredit di wilayah kerja OJK Malang memang tumbuh secara moderat, namun ojk tetap waspada terhadap potensi risiko. Masyarakat harus memegang prinsip legal dan logis—yakni memastikan lembaga keuangan yang digunakan diawasi OJK dan tawarannya masuk akal,
Hingga akhir September 2025, penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja OJK Malang tumbuh 8,41 persen secara tahunan (year on year), dari Rp101,14 triliun pada September 2024 menjadi Rp109,64 triliun pada September 2025.
Kenaikan juga terjadi sebesar 0,76 persen dibandingkan posisi bulan Agustus 2025.
Baca Juga : OJK Malang Berhasil Jaga Stabilitas Keuangan Di Wilayah Malang

Secara nasional, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,70 persen year on year.
Berdasarkan jenis bank, Bank Umum Konvensional (BUK) masih mendominasi dengan total penyaluran Rp101,33 triliun atau tumbuh 8,64 perse. Sementara Bank Umum Syariah (BUS) mencatatkan Rp6,13 triliun dengan pertumbuhan 4,18 persen.
Bank Perekonomian Rakyat (BPR) menyalurkan Rp1,94 triliun dengan pertumbuhan 8,55 persen, dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) menjadi yang tertinggi secara persentase dengan pertumbuhan 22,25 persen atau setara Rp228,56 miliar.
Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah (NPL) di wilayah kerja OJK Malang berada di angka 2,80 persen, sedikit di atas rata-rata nasional yang tercatat 2,32 persen. Meski begitu, OJK menilai kualitas kredit secara keseluruhan masih terjaga dengan baik.
Jumlah entitas perbankan di wilayah kerja OJK Malang terdiri atas 34 Bank Umum Konvensional, 6 Bank Umum Syariah, 48 BPR, dan 6 BPRS.

Jika dilihat per daerah, Kabupaten Malang menjadi wilayah dengan penyaluran kredit tertinggi mencapai kota batu Rp30,35 triliun atau 27,68 persen dari total wilayah kerja. Disusul Kota Malang sebesar Rp29,47 triliun (26,88 persen), dan Kabupaten Pasuruan Rp17,62 triliun (16,21 persen).
Untuk pertumbuhan kredit tertinggi, Kabupaten Probolinggo menempati posisi pertama dengan kenaikan 21,67 persen, diikuti Kota Probolinggo dengan 27,95 persen dan Kota Malang dengan 7,89 persen.
Sementara Kota Probolinggo mencatat rasio NPL gross terendah sebesar 1,46 persen, disusul Kabupaten Probolinggo 1,92 persen, dan Kota Pasuruan 2,10 persen
Dari sisi sektor ekonomi, pengadaan listrik, gas, dan uap air panas menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 43,38 persen yoy, diikuti sektor pendidikan dengan 31,05 persen dan pertambangan serta penggalian 30,65 persen. Menariknya, ketiga sektor ini juga mencatat NPL terendah, masing-masing di bawah 0,3 persen.
OJK Malang menilai tren ini menandakan stabilitas industri keuangan di wilayah Malang Raya dan sekitarnya masih terjaga, dengan pertumbuhan kredit yang sehat serta risiko pembiayaan yang tetap terkendali. (**)
Editor : JTV Malang



















