Menu
Pencarian


Napas Gerabah Garon, Terjepit Minim Penerus

JTV Madiun - Sabtu, 12 September 2026 15:04
Napas Gerabah Garon, Terjepit Minim Penerus
Napas Gerabah Garon, Terjepit Minim Penerus

MAGETAN - Di tengah gempuran produk kerajinan modern, gerabah berbahan tanah liat masih menjadi pilihan sebagian masyarakat. Namun, keberlangsungan kerajinan tradisional di Desa Garon, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kini menghadapi berbagai tantangan.

Persoalan bukan hanya terkait bahan baku dan proses produksi, tetapi juga semakin minimnya generasi muda yang mau meneruskan pekerjaan sebagai perajin gerabah.

Dari tanah liat sederhana, para perajin di Desa Garon mampu menghasilkan berbagai peralatan dapur tradisional. Mulai dari maron, lemper, kwali, wajan, kekep, hingga lowong. Dengan keterampilan tangan, tanah liat dibentuk dan diolah menjadi peralatan yang hingga kini masih digunakan masyarakat.

Namun, di balik proses pembuatan tersebut, tersimpan kekhawatiran akan keberlangsungan industri rumahan ini.

Bu Giyem, salah seorang perajin gerabah senior di Desa Garon, mengungkapkan bahwa dahulu hampir setiap rumah di dua RT di wilayah tersebut merupakan perajin gerabah. Jumlahnya bahkan mencapai puluhan orang.

Kini, jumlah perajin yang masih bertahan kurang dari sepuluh orang, dan sebagian besar sudah berusia lanjut.

“Dulu hampir setiap rumah di sini membuat gerabah. Kalau dihitung, ada puluhan orang. Sekarang tinggal kurang dari sepuluh perajin, itu pun kebanyakan sudah tua.”

Meski jumlah perajin terus berkurang, produk gerabah buatan tangan masih memiliki peminat. Pesanan datang dari sejumlah daerah sekitar, di antaranya Madiun dan Ngawi.

Para pembeli umumnya melakukan pemesanan terlebih dahulu sesuai kebutuhan dan ukuran. Harga gerabah pun cukup beragam, mulai dari sekitar Rp3.000 hingga Rp30.000 per buah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya.

Di sisi lain, para perajin juga menghadapi persoalan bahan baku. Tanah liat dengan kualitas baik semakin sulit diperoleh. Kondisi tersebut turut membuat harga bahan baku mengalami kenaikan, terutama saat musim kemarau.

Harga satu truk dam tanah liat yang sebelumnya sekitar Rp300.000, kini meningkat menjadi sekitar Rp450.000.

Kondisi ini membuat para perajin harus mengurangi pesanan dalam jumlah besar. Selain terkendala bahan baku, keterbatasan tenaga juga membuat kapasitas produksi tidak lagi sebanyak dahulu.

Dalam sehari, seorang perajin hanya mampu menghasilkan sekitar sepuluh gerabah berukuran sedang hingga besar.

Di tengah masih adanya permintaan pasar, para perajin senior di Desa Garon kini berupaya mempertahankan kerajinan warisan tersebut. Namun, tanpa adanya generasi penerus, keberadaan gerabah Garon dikhawatirkan semakin tergerus zaman.

Kerajinan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ini kini bukan hanya membutuhkan pasar, tetapi juga generasi baru yang bersedia belajar dan meneruskan keterampilan membuat gerabah.

Editor : JTV Madiun






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.